Padang – Keluarga besar Dunsanak Veteran 17 berduka setelah drs. H. Aditiawarman, yang akrab disapa Pak AB, meninggal dunia pada sabtu, 13 Juni 2026, sekitar pukul 18.00 WIB di rumahnya di Jalan Aster Flamboyan. Almarhum kemudian dimakamkan di kampung halamannya, ampang Gadang, 50 kota.

Kabar wafatnya Pak AB diterima melalui grup WhatsApp Dunsanak Veteran 17 selepas tengah malam. Saat kabar itu datang, penulis sedang mengurus penyelenggaraan jenazah Bapak Jasman, S.Sos, MM, Kabag Kesra Setda Kota Padang, yang lebih dulu meninggal pada Jumat sore.Jasman disebut sebagai dunsanak sekaligus kerabat dekat penulis.

Dunsanak Veteran 17 merupakan perkumpulan para alumni wartawan dan karyawan Surat Kabar Harian Singgalang yang dahulu berkantor di Jalan Veteran 17, Padang.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Semoga Pak AB meninggal dalam keadaan husnul khatimah, diampuni segala dosanya, diterima amal kebajikannya, dan diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT,” tulis penulis mengenang sosok yang ia anggap humoris sekaligus berwibawa itu.

Kenangan tentang Pak AB paling membekas saat penulis menunaikan ibadah haji pada 1996.Ketika itu, penulis berangkat ke Tanah Suci setelah meraih juara satu MTQ Antar Wartawan se-Asia Tenggara dan menerima hadiah uang tunai 5.000 dolar AS.

Pada musim haji yang sama, sejumlah wartawan Singgalang juga berangkat menunaikan ibadah haji, termasuk Pak AB, Shofwan Karim, Darlis Syofyan, dan Marwan Zein. Mereka tergabung dalam kloter 8 Padang atau MES 31 Medan, sedangkan Marwan Zein berangkat dari embarkasi Jakarta.

Di Mekah, mereka menginap di Maktab 44, Almishfalah 2, yang berjarak sekitar 100 metre dari Masjidil Haram. Penulis sekamar dengan Pak AB di lantai 6, bahkan kasurnya berdampingan langsung dengan tempat tidur almarhum.

Suatu pagi, saat penulis terserang flu berat dan memilih salat subuh di maktab, Pak AB justru menyemangatinya agar tetap berangkat ke Masjidil Haram.

“Das, jago lai, wak sholat subuh ka Haram,” kata Pak AB sambil menepuk bahu penulis.

“Ambo di maktab sajo pak, masih barek kapalo ko haah,” jawab penulis.

“Angku paturuikkan maleh tu beko maleh taruih ka masjid. Iko di Makah awak mah. Lawan maleh tu,” ujar Pak AB.

Nasihat itu membuat penulis bangkit, mandi, lalu berangkat bersama ke Masjidil Haram. Sejak saat itu, ia mengaku tak pernah lagi absen salat subuh di masjid. Pesan untuk melawan rasa malas itu, katanya, terus diingat hingga kini.

Kenangan lain yang tak kalah berkesan terjadi saat prosesi lempar jumrah aqabah pada 10 Zulhijjah.Setelah subuh, mereka berangkat dari tenda menuju jamarat usai tiba di mina dari Arafah dan Muzdalifah.Bersama ribuan jamaah lain, keduanya melewati terowongan Almuaisim sambil bertakbir.

Perjalanan itu berlangsung berat. Jutaan jamaah bergerak menuju titik yang sama dalam waktu bersamaan, ditambah kelelahan setelah menempuh rangkaian Armuzna. Namun, mereka berhasil melewatinya dengan selamat dan menjalani tahalul ashghar secara bergantian.

Di momen itu, penulis tak kuasa menahan haru. Seusai tahalul, ia menangis. Pak AB yang berjalan di sampingnya sempat terkejut.

“Manga angku manangih? Ibo bana hati tu maninggaan syetan?” tanya Pak AB.

“Indak itu do Pak. Dengan lah tahalul ashghar tadi berarti awak kini lah haji. Ndak tabayang do ambo bisa haji,” jawab penulis sambil mengusap air mata.

Mendengar itu, Pak AB ikut menangis. Keduanya larut dalam haru sepanjang perjalanan pulang melalui terowongan Almuaisim.

“Yaa allah terimalah haji kami sebagai haji mabrur. Lapangkankah kubur Pak AB dan pertemukan kami kembali di syorga-Mu, yaa Rabb,” tulis penulis.

Selama berhaji, penulis dan Pak AB hampir selalu bersama. Setiap subuh mereka berjalan ke Masjidil Haram, lalu pulang sekitar pukul 07.00 WIB untuk membeli sarapan dari pedagang Madura di sepanjang jalan. Sekitar pukul 11.00 WIB, mereka kembali ke haram dan pulang setelah Isya untuk membeli makan malam.

Di luar waktu salat, keduanya menghabiskan waktu dengan membaca Alquran dan berzikir. Tak jarang, mereka tertidur di masjid sebelum dibangunkan askar menjelang azan.

Sekitar tiga kali dalam sepekan,mereka makan siang di restoran Padang yang berada di lantai satu Hotel Hilton,tepat di seberang Masjidil Haram. Kadang, menu makan siang mereka hanya sepotong roti berisi daging kambing, semangkuk es krim, dan sebotol air mineral.

Menjelang ashar atau sesudahnya, mereka kerap melepas dahaga dengan segelas jus jeruk dari pedagang kaki lima di emperan toko. Salah satu penjual asal Yaman menjadi langganan mereka. Lelaki tua itu selalu menyapa dengan ramah setiap kali mereka datang.

“Bisa juo gaek ko bagarah yo Wardas yo, walaupun liau indak mangarti bahaso awak,” kata Pak AB sambil mencubit penulis.

Pada suatu kesempatan, pedagang tua itu sempat menawarkan ramuan berkhasiat untuk orang dewasa. Ia menjelaskan bahan,manfaat,dan cara meminumnya dengan gerakan tangan yang lincah sambil terus tertawa dan mengajak mereka membeli. meski tak pernah membeli, keduanya tetap disambut hangat pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

Bagi penulis, itulah sekelumit kenangan berhaji bersama Pak AB. Sosok yang dikenal humoris dan berwibawa itu kini telah tiada, menyisakan doa dan ingatan yang sulit dilupakan.

“Semoga Pak AB tenang di alam sana dan kelak kita dipertemukan bersama orang-orang saleh oleh Allah di surga-Nya. Aamiin,” tulis penulis.

Al Faatihah untuk Pak AB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *