Padang – Pesan singkat yang menggantung, seperti “Nanti aku kabari ya,” ternyata menyimpan dampak psikologis yang signifikan bagi penerima.Rezkya Afril, mahasiswa Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, mengungkapkan pada Jumat (27/6/2025) bahwa kebiasaan komunikasi yang tidak jelas ini dapat memicu berbagai respons negatif, mulai dari penundaan aktivitas hingga perasaan tidak dihargai.

Afril menjelaskan, penerima pesan seringkali terjebak dalam ketidakpastian, menunda kegiatan atau menolak ajakan karena merasa akan segera dibutuhkan. Namun, beberapa jam kemudian, pengirim pesan mungkin membatalkan dengan singkat, “Gak jadi, ya.” Menurut Afril, pembatalan ini seringkali tanpa disertai penjelasan atau permintaan maaf, sehingga penerima pesan merasa waktu, tenaga, dan perhatian mereka tidak dihargai.

“Yang lebih mengkhawatirkan adalah hal ini sering terjadi tanpa rasa bersalah, seolah kesiapan orang lain adalah hal yang bisa dimanfaatkan begitu saja,” ujar Afril. Ia menambahkan, permintaan maaf sederhana seperti, “Maaf ya, jadi batal,” dapat menunjukkan penghargaan dan empati. Dalam konteks ajaran Islam, Afril menekankan bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang menjaga akhlak dan amanah.

Afril mengutip hadis Rasulullah ﷺ, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ia menjelaskan bahwa janji dalam hadis ini tidak terbatas pada kalimat eksplisit, tetapi juga mencakup ekspektasi yang dibangun melalui ucapan atau sikap. “Maka ketika kita membiarkan orang menunggu tanpa kepastian, sesungguhnya kita sedang menyia-nyiakan sebuah amanah kecil yang punya dampak besar,” tegasnya pada Jumat (27/6/2025).

Afril juga mengutip firman Allah SWT dalam Al-Quran,”Dan sempurnakanlah janji; sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.” (QS.Al-Isra: 34).

Dari perspektif psikologi, Afril menjelaskan bahwa komunikasi yang tidak jelas menciptakan ambiguitas sosial, yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan ketidakpastian emosional. Ia mengutip pernyataan Dr. Brené Brown, “clear is kind. Unclear is unkind,” yang menekankan bahwa kejelasan adalah bentuk kebaikan,sementara ketidakjelasan adalah bentuk ketidaksopanan.Psikologi mengenal istilah ambiguous loss, yaitu perasaan kehilangan emosional akibat tidak adanya kejelasan. Dalam situasi ini, seseorang mungkin merasa bingung dan frustrasi, yang pada akhirnya dapat menurunkan harga diri. Psikolog klinis Guy Winch juga menyatakan bahwa diabaikan atau dibiarkan tanpa kejelasan dalam komunikasi dapat memicu gangguan emosional yang membekas jika sering terjadi.

Afril mengingatkan bahwa kesediaan seseorang untuk menunggu atau membantu adalah bentuk komitmen dan penghargaan. Oleh karena itu, membalasnya dengan keheningan atau pembatalan mendadak tanpa penjelasan mencerminkan sikap yang kurang menghargai. Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR.Muslim).Sebaliknya, mempersulit orang lain dengan membuat mereka menunggu dalam ketidakjelasan dapat berakibat buruk bagi diri sendiri. Afril menekankan bahwa meminta bantuan adalah hal yang wajar, tetapi harus dilakukan dengan cara yang beradab. Ia menyarankan untuk memberikan penjelasan rinci saat meminta bantuan, memberikan informasi jika masih membutuhkan waktu, dan menyampaikan pembatalan segera disertai permintaan maaf.

“Kejelasan bukan sekadar etika komunikasi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap waktu, tenaga, dan perasaan orang lain,” pungkas Afril. Ia menambahkan bahwa tindakan ini, jika diniatkan dengan tulus, dapat menjadi amal kebaikan. “Maka, lain kali ketika hendak meminta bantuan, mari kita mulai dengan kesadaran untuk tidak menyulitkan, apalagi menyakiti. Karena pada akhirnya, adab adalah bagian dari iman, dan kejelasan adalah bentuk kepedulian yang paling sederhana,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *