Jakarta – PT Bank DBS Indonesia mengucurkan tambahan dana sebesar Rp 3 triliun kepada Kredivo guna memperluas jangkauan pembiayaan digital. Peningkatan pendanaan ini merupakan bagian dari kemitraan strategis jangka panjang yang terjalin antara Bank DBS Indonesia dan Kredivo selama lebih dari lima tahun.

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, menjelaskan kolaborasi dengan Kredivo dimulai sejak 2020 dengan limit pendanaan awal Rp 300 miliar. "Seiring berjalannya waktu, limit tersebut terus meningkat menjadi Rp 500 miliar, kemudian Rp 1 triliun pada 2021, Rp 2 triliun pada 2022, hingga mencapai Rp 3 triliun pada akhir 2025," ungkap Melfrida.

Menurutnya, peningkatan signifikan ini mencerminkan kinerja penyaluran kredit Kredivo yang konsisten dan pertumbuhan permintaan pasar yang berkelanjutan. Pendanaan tambahan ini selaras dengan strategi Bank DBS Indonesia dalam memperluas ekosistem kredit ritel, dengan tujuan menghadirkan solusi finansial yang adaptif dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. "Bagi kami, inovasi bukan hanya sekadar teknologi, tetapi juga cara untuk menjembatani kebutuhan finansial masyarakat," imbuhnya.

Co-Founder & President Director Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, menyatakan suntikan dana ini akan memacu ekspansi layanan Kredivo ke lebih banyak kota tier 2 dan 3. Wilayah-wilayah tersebut memiliki potensi pertumbuhan besar, namun masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kredit formal perbankan.

Data dari Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 menunjukkan 53,6 persen pengguna Kredivo berasal dari kota tier 2 dan 3, yang mencerminkan tingginya kebutuhan dan adopsi masyarakat terhadap layanan kredit digital. Dengan pendanaan lebih besar, Kredivo akan memprioritaskan penyediaan akses kredit yang mudah, aman, dan terjangkau untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kebutuhan harian, kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan produktif.

"Kolaborasi antara Bank DBS Indonesia dan Kredivo yang telah berjalan hampir enam tahun ini membuktikan bahwa kerja sama antara bank konvensional dan platform kredit digital memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital," pungkas Umang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *