Padang – Sumatra Barat mencatatkan pertumbuhan ekonomi terendah di Sumatra pada kuartal II 2025, hanya 3,94 persen. Kinerja ini dipicu lambatnya eksekusi program pemerintah daerah.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatra pada periode yang sama berada di atas 4 persen.
Kepulauan riau memimpin pertumbuhan ekonomi dengan 7,14 persen, diikuti Sumatra Selatan (5,42 persen) dan Lampung (5,09 persen).
Guru besar ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai provinsi tetangga lebih agresif dalam mendorong proyek fisik dan event yang berdampak pada ekonomi daerah.
“Sumbar kalah cepat eksekusi sehingga pertumbuhan ekonomi melambat,” kata Syafruddin, selasa (23/9/2025).
Syafruddin menyoroti belum optimalnya permintaan domestik dan serapan belanja pemerintah. Sektor konstruksi dan investasi juga dinilai stagnan.
Lonjakan impor memperparah kondisi, menyebabkan dana belanja “bocor” ke luar daerah. “basis industri pengolahan masih sempit, pariwisata belum bertransformasi menjadi ekonomi acara sepanjang tahun, dan logistik pangan dingin belum merata,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Sumbar diminta memperhatikan daya beli masyarakat yang melemah, karena akan menekan konsumsi rumah tangga yang merupakan komponen terbesar PDRB.
Data BPS menunjukkan PDRB Sumbar pada kuartal II 2025 berada di angka 6,76 persen.
Syafruddin menyarankan pemprov Sumbar mendorong belanja APBD untuk proyek padat karya dan memberikan dukungan pembiayaan berbasis arus kas untuk UMKM.
Percepatan perizinan ekspansi usaha, kurasi kalender event lintas kabupaten/kota, serta program padat karya yang cepat cair juga dinilai penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi.











