Bukittinggi – Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan melalui Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) kini didorong menjadi inspirasi utama dalam menyikapi isu kemerdekaan Palestina.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menekankan bahwa nilai-nilai historis PDRI yang mampu menjaga eksistensi negara selama 207 hari di tengah tekanan penjajah, harus menjadi landasan solidaritas bagi bangsa yang sedang tertindas.
Ajakan tersebut disampaikan Mahyeldi saat membuka Seminar Kepalestinaan di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Minggu (25/10/2026).
Menurut Mahyeldi, ketangguhan para pendiri bangsa dalam mempertahankan Republik Indonesia mencerminkan keberanian dan komitmen terhadap kemerdekaan setiap bangsa di dunia.
“Semangat perjuangan PDRI mengajarkan kita tentang arti keberanian, persatuan, dan komitmen kuat terhadap cita-cita kemerdekaan setiap bangsa,” tegas Mahyeldi dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar aksi kemanusiaan, melainkan wujud konsistensi politik luar negeri Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan.
Sikap ini disebutnya selaras dengan mandat sejarah yang pernah diletakkan oleh Presiden Soekarno terkait kedaulatan bangsa-bangsa.
Dalam forum tersebut, Mahyeldi juga memberikan apresiasi terhadap peran Komite Nasional untuk Palestina yang terus aktif melakukan sosialisasi dan penggalangan dana.
Ia berharap seminar ini mampu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat agar keberpihakan terhadap hak menentukan nasib sendiri tetap menjadi warisan sejarah yang terus dihidupkan oleh bangsa Indonesia.










