Jakarta – Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil meskipun konflik di Timur Tengah terus bereskalasi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
"Mau naik berapa pun tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan, harga Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan US$ 70 per barel. Namun, harga di pasar saat ini melonjak menjadi US$ 78-80 per barel.
Kenaikan ICP ini berdampak pada peningkatan dana subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Meski demikian, Bahlil melihat lonjakan harga ICP juga berpotensi meningkatkan pendapatan negara dari lifting minyak sekitar 600 ribu barel per hari.
Saat ini, Indonesia mengimpor 25 persen minyak mentah dari Timur Tengah. Sisanya berasal dari Afrika, Amerika Serikat, Brasil, dan negara-negara lain.
Akibat penutupan Selat Hormuz, pemerintah mengalihkan impor 25 persen minyak mentah tersebut ke Amerika Serikat.
Pengalihan impor ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat. Indonesia berkomitmen membeli BBM dan liquefied petroleum gas (LPG) dari Amerika Serikat senilai US$ 15 miliar.











