Padang – Memasuki usia ke-81 pada 1 Oktober 2026, Sumatera Barat menghadapi tantangan besar dalam mentransformasi kekayaan alam dan budayanya menjadi industri pariwisata yang bernilai ekonomi tinggi.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kini menempatkan peningkatan daya saing pariwisata serta akselerasi ekonomi kreatif sebagai misi utama pembangunan daerah.
Pariwisata harus bertransformasi dari sekadar objek yang dikunjungi menjadi industri yang menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di nagari.
Kawasan seperti Danau Diatas dan Dibawah di Alahan Panjang tidak boleh lagi hanya mengandalkan keindahan visual.
Wisatawan perlu diajak merasakan pengalaman holistik, mulai dari mengunjungi kebun, menikmati kuliner lokal, hingga berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.
Hal serupa berlaku bagi Kawasan Wisata Mandeh di Pesisir Selatan yang membutuhkan paket wisata pengalaman, seperti keterlibatan dalam aktivitas nelayan dan seni budaya pesisir.
Sementara itu, sinergi antara alam dan sejarah menjadi kunci di Kabupaten Limapuluh Kota, di mana wisatawan dapat menikmati paket perjalanan dari tebing Lembah Harau menuju jejak peradaban di Situs Maek.
Bukittinggi diproyeksikan berperan sebagai hub atau gateway yang mengarahkan arus wisatawan ke berbagai destinasi lain di Sumatera Barat, seperti Tanah Datar, Agam, hingga Sijunjung.
Geopark Silokek di Sijunjung juga tengah didorong menjadi destinasi edukasi dan konservasi, terutama dengan adanya evaluasi dari UNESCO pada Agustus 2026.
Sektor wisata religi di Ulakan dan potensi bahari di Kepulauan Mentawai pun harus dikelola dengan pendekatan profesional tanpa meninggalkan nilai kesakralan maupun kearifan lokal.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah fragmentasi destinasi yang masih berjalan sendiri-sendiri.
Diperlukan desain besar pemasaran pariwisata atau tourism marketing architecture yang mengintegrasikan seluruh potensi daerah ke dalam paket perjalanan lintas kabupaten dan kota.
Konsep ini mencakup paket seperti “Minang Heritage”, “Lake and Highland”, hingga “Taste of Minangkabau” yang memudahkan wisatawan dalam merencanakan perjalanan.
Selain itu, kalender event pariwisata harus dirancang secara terpadu untuk memberikan dampak ekonomi nyata bagi hotel, restoran, dan pelaku UMKM.
Keberhasilan sektor ini ke depan tidak lagi diukur dari jumlah kunjungan semata, melainkan dari lama tinggal wisatawan dan besaran pengeluaran yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan visi Mahyeldi–Vasko mengenai “Sumatera Barat Madani yang Maju dan Berkeadilan”, pariwisata akan menjadi titik temu antara inovasi, teknologi, dan pelestarian nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.











