Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan aktivitas pinjaman online (pinjol) akan meningkat selama bulan Ramadan, sehingga masyarakat perlu waspada. Data OJK menunjukkan total utang masyarakat pada pinjol resmi mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyatakan tren kenaikan ini terlihat dari data historis. Pada Maret 2024, penyaluran pendanaan pinjol tumbuh 8,90 persen (mtm), sementara Maret 2025 tercatat 3,80 persen (mtm).
"Tren tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dapat menjadi salah satu momentum meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat," kata Agusman dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/1/2026).
OJK mencatat penyaluran pinjol didominasi untuk konsumsi, mencapai Rp 63,63 triliun (67,09 persen dari total pinjaman) hingga November 2025. Penyaluran untuk sektor produktif hanya 32,91 persen, menurun dari September 2025 yang sebesar 34,48 persen.
Total pinjaman daring per November 2025 tumbuh 25,45 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 23,86 persen (yoy). Tingkat risiko kredit (TWP90) juga melonjak dari 2,76 persen menjadi 4,33 persen.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, memprediksi kredit macet berpeluang membaik pada 2026, asalkan tidak ada kejadian luar biasa. "Tapi permintaan pindar nampaknya masih akan meningkat positif tapi melandai di beberapa bulan. Terlebih di bulan ramadhan akan terjadi peningkatan permintaan pindar," ujarnya.
Menanggapi tren ini, regulator didorong memperketat regulasi kredit untuk menekan kredit macet. Namun, kebijakan ini berisiko mengurangi inklusivitas keuangan digital.











