Jakarta – Pemerintah mengalokasikan Rp281,6 triliun untuk subsidi energi dan non-energi sepanjang 2025, mencakup subsidi BBM, LPG 3 kg, listrik, pupuk, dan perumahan.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, alokasi anggaran didasari peningkatan volume barang bersubsidi.
"Ini adalah bentuk keberpihakan kita memastikan bahwa APBN memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Suahasil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2025).
Realisasi penyaluran BBM bersubsidi mencapai 18.979,3 ribu kilo liter hingga 31 Desember 2025, naik 4,7 persen dari tahun sebelumnya.
Penyaluran subsidi LPG 3 kg juga meningkat 3,9 persen, dari 8.226,5 juta kg menjadi 8.554,9 juta kg.
Jumlah pelanggan penerima subsidi listrik bertambah 2,6 persen, dari 41,7 juta menjadi 42,8 juta pelanggan.
Subsidi pupuk yang tersalurkan pada 2025 meningkat 12,1 persen, dari 7,2 juta ton menjadi 8,1 juta ton.
Kenaikan tertinggi terjadi pada subsidi perumahan, mencapai 39,5 persen.
Suahasil menjelaskan, rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah mencapai 278,9 ribu unit pada 2025, meningkat signifikan dari 200 unit pada tahun sebelumnya.
Realisasi subsidi energi dipengaruhi oleh harga komoditas, kurs, dan volume.
Pemerintah juga menyederhanakan regulasi subsidi pupuk untuk mempercepat penyaluran dan menekan harga eceran tertinggi.
Anggaran yang tersalurkan sepanjang 2025 mencapai 91,4 persen dari target yang dialokasikan.
Untuk tahun depan, pemerintah memproyeksikan anggaran subsidi energi dan non-energi mencapai Rp318,9 triliun, dengan komposisi subsidi energi sekitar Rp210,1 triliun dan non-energi Rp108,8 triliun.











