Tanah Datar – Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru, diperkirakan akan menggelontorkan investasi sebesar Rp1,5 triliun. Proyek ini tidak hanya menghadirkan fasilitas pendidikan modern, tetapi juga berpotensi mengubah wajah ekonomi masyarakat setempat secara signifikan.
Sekolah yang akan dibangun di atas lahan seluas 23 hektare tersebut dirancang untuk menampung sekitar 3.000 siswa.Jumlah ini hampir mencapai sepertiga dari total penduduk Nagari Tanjung Alam yang berkisar antara 9.000 hingga 10.000 jiwa. Dengan demikian, setiap hari kawasan sekolah akan menjadi pusat aktivitas belajar, bekerja, dan berbelanja bagi ribuan orang.
ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra menyatakan bahwa proyek ini merupakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dalam jangka panjang. “Insya allah investasi Rp1,5 triliun ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya. Anton menambahkan bahwa kehadiran sekolah tersebut bakal membuka ruang bagi berbagai sektor usaha seperti warung makan, transportasi, penginapan hingga pelaku UMKM untuk berkembang dan memperoleh pasar baru.Tokoh Pers Sumatera Barat Khairul Jasmi juga menyoroti dampak ekonomi yang muncul setelah sekolah mulai beroperasi. Ia menjelaskan bahwa banyak pihak masih melihat proyek ini hanya dari sisi fisik bangunan semata padahal sebenarnya sebuah ekosistem ekonomi baru sedang terbentuk di sana.
“Yang dibangun bukan hanya gedung sekolah saja,” kata khairul Jasmi pada Jumat (7/8/2026). “Ada ribuan orang yang tinggal,belajar,bekerja dan berbelanja setiap hari sehingga aktivitas ekonomi mulai bergerak.” Ia memaparkan kebutuhan para siswa akan menciptakan rantai bisnis panjang mulai dari pangan hingga jasa kebersihan dan perdagangan.
Lahan seluas 23 hektare sebagai lokasi pembangunan merupakan hibah dari keluarga besar Dony Oskaria sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat Minangkabau.Bagi warga Tanjung Alam sendiri proyek Sekolah Rakyat bukan sekadar pembangunan fisik melainkan simbol harapan baru bagi masa depan nagari yang selama ini dikenal dengan ritme pertanian dan perdagangan tradisionalnya. Investasi besar itu dianggap sebagai titik awal transformasi sosial-ekonomi sekaligus membuka peluang luas bagi masyarakat setempat untuk berkembang lebih maju lagi di masa mendatang.










