Solo – Kementerian Perdagangan (Kemendag) meluncurkan program "Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Berorientasi Ekspor" di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2026). Program ini bertujuan meningkatkan rasio kewirausahaan nasional yang saat ini 3,29 persen.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, rasio kewirausahaan Indonesia masih di bawah Malaysia yang mencapai 8 persen, bahkan negara maju dengan 10 hingga 12 persen.
Budi menilai kampus adalah ekosistem penting untuk mencetak wirausaha muda. Mahasiswa dinilai berpotensi menjadi pelaku usaha dan pencipta lapangan kerja.
Melalui Campuspreneur, pemerintah memberikan pelatihan, pendampingan usaha, business matching, dan akses pasar domestik serta internasional.
Kemendag memfasilitasi mahasiswa terhubung dengan jaringan perdagangan internasional melalui perwakilan Indonesia di luar negeri.
Inisiatif ini dirancang mencetak eksportir muda berdaya saing global. Budi optimistis sinergi pemerintah dan perguruan tinggi membentuk ekosistem kewirausahaan inovatif dan berorientasi internasional.
Rektor UNS Hartono menyambut baik program ini. Ia menegaskan mahasiswa harus didorong menjadi job creator dan eksportir muda, bukan hanya job seeker.
Menurut Hartono, program ini adalah langkah visioner memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global melalui pengembangan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing tinggi.
Solo – Pemerintah berupaya meningkatkan rasio kewirausahaan nasional yang saat ini 3,29 persen melalui program "Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Berorientasi Ekspor". Program ini diresmikan Budi Santoso di UNS, Solo, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2026).
Budi mengungkapkan kewirausahaan Indonesia masih tertinggal dari Malaysia yang mencapai 8 persen, bahkan negara maju dengan 10 hingga 12 persen.
Menurut Budi, lingkungan kampus menjadi ekosistem strategis untuk mencetak wirausaha baru. Mahasiswa.











