Jakarta – Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang kedaulatan Indonesia di level BBB dengan outlook Stable pada Rabu, 15 Juli 2026, menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan, terutama setelah IHSG menguat dan bertahan di atas level psikologis 6.000.
Namun, sejumlah analis menilai pemulihan pasar saham belum sepenuhnya kokoh karena belum diikuti stabilisasi rupiah dan kembalinya arus dana asing. Riset PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management menyebut respons pasar terhadap keputusan S&P sebagai sinyal positif paling jelas sejak awal tahun.
Meski penguatan saham terlihat, tekanan struktural di pasar modal dinilai belum berakhir. Analis masih mencermati sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar hingga akhir tahun, termasuk masa probasi Indonesia oleh MSCI hingga November, status watchlist dari S&P Dow Jones Indices, serta FTSE Annual Review pada Oktober.
Riset tersebut menekankan bahwa investor perlu membedakan penilaian lembaga pemeringkat kredit dengan penyedia indeks global. S&P Global Ratings menilai kemampuan pemerintah mengelola kondisi fiskal dan moneter, termasuk kapasitas memenuhi kewajiban utang, sedangkan MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI lebih menitikberatkan aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor global.
Karena itu, keputusan positif dari S&P tidak otomatis diikuti peningkatan aliran modal asing ke pasar saham. Hal itu tercermin dari pergerakan pasar setelah pengumuman S&P, ketika IHSG menguat tetapi nilai tukar rupiah masih bertahan di kisaran Rp 18.131 per dolar Amerika Serikat.
Riset Henan Putihrai menilai pemulihan pasar yang sehat umumnya diawali stabilitas rupiah, lalu diperkuat kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang kondusif untuk menarik kembali dana asing. “Selama rupiah belum stabil dan arus asing belum benar-benar kembali, penguatan ini masih rentan kehilangan momentum,” tulis riset tersebut.
Pandangan itu sejalan dengan catatan S&P Global Ratings yang menilai perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasinya masih dapat memengaruhi kepercayaan investor, sekaligus memberi tekanan terhadap nilai tukar dan pasar keuangan. Meski begitu, S&P menegaskan Indonesia tidak berada dalam kondisi krisis kredit dan pemerintah masih memiliki kemampuan serta kemauan untuk memenuhi seluruh kewajiban keuangannya.
Menurut perhitungan Henan Putihrai, pasar saham Indonesia masih membutuhkan kenaikan sekitar 19,7% dari posisi saat ini agar dinilai memasuki fase pemulihan yang lebih kuat. Sejumlah agenda yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar hingga akhir tahun adalah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada akhir Juli, FTSE Annual Review pada Oktober, dan evaluasi MSCI pada November.
Dalam laporannya, S&P Global Ratings mengakui Indonesia menghadapi tekanan yang tidak ringan. Lembaga itu mencatat kondisi fiskal masih tertekan, nilai tukar rupiah melemah, biaya bunga utang berada di atas ambang yang dianggap nyaman, serta kapitalisasi pasar keuangan menyusut lebih dari 30% sepanjang semester I-2026.
Meski demikian, S&P tetap mempertahankan peringkat Indonesia karena menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat. Penilaian itu didukung pertumbuhan ekonomi riil sebesar 5,6% pada kuartal I-2026, kenaikan penerimaan negara sebesar 21% pada semester I-2026, serta komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ke depan, S&P memperkirakan kenaikan harga komoditas dan langkah efisiensi belanja pemerintah dapat memperbaiki kondisi fiskal Indonesia dan mendukung stabilitas ekonomi secara bertahap. Dalam catatan riset, keputusan lembaga pemeringkat dan hasil evaluasi penyedia indeks global akan menentukan seberapa cepat pemulihan pasar modal berlangsung.
IHSG Naik 0,47% ke 6.067 di Sesi I, Top Gainers LQ45: ANTM, ESSA, ISAT, Rabu (15/7)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/07/15/135118126/sp-pertahankan-rating-indonesia-ihsg-menguat-tapi-risiko-belum-hilang?page=all#page2.










