Jakarta – Prospek kinerja emiten konstruksi diperkirakan masih tertekan hingga akhir 2026 karena pelemahan rupiah yang mendorong kenaikan harga bahan bangunan dan membebani margin kontraktor, terutama di proyek dengan skema lump sum.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai tekanan biaya material menjadi tantangan utama bagi sektor ini, sementara perubahan skema pembayaran dari pemasok yang mulai meminta tunai juga memperberat likuiditas perusahaan.
Data Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menunjukkan margin kontraktor yang biasanya berada di kisaran 10% kini semakin tertekan. Kondisi itu membuat ruang profitabilitas emiten konstruksi menyempit di tengah kebutuhan modal kerja yang lebih besar.
“Kami menilai prospek sektor konstruksi masih menantang hingga akhir 2026. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya material impor dan menekan margin, terutama pada proyek lump sum,” kata Sukarno.
Ia menjelaskan, emiten dengan backlog berkualitas, posisi kas kuat, dan proyek yang memiliki mekanisme eskalasi harga masih berpeluang menjaga kinerja. Strategi price adjustment dan penghindaran kontrak lump sum dinilai dapat membantu meredam tekanan margin.
“Price adjustment membantu mengalihkan sebagian kenaikan biaya kepada pemberi kerja, sementara pengurangan kontrak lump sum membatasi risiko kenaikan biaya material,” kata Sukarno.
Namun, efektivitas strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan negosiasi dan skema kontrak masing-masing emiten. Perubahan skema pembayaran pemasok menjadi tunai juga berpotensi menekan arus kas, terutama bagi perusahaan dengan likuiditas terbatas atau leverage tinggi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai tekanan pada sektor konstruksi juga dipengaruhi faktor global. Tensi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda menjaga harga minyak tetap tinggi dan berpotensi mendorong inflasi global serta mempertahankan suku bunga tinggi.
“Pelemahan rupiah akibat kondisi tersebut semakin membebani emiten konstruksi yang masih bergantung pada impor bahan baku maupun peralatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan menjadi tantangan tersendiri karena sektor konstruksi bersifat padat modal dan masih bergantung pada pembiayaan utang. Di tengah kondisi itu, skema price adjustment dinilai cukup efektif untuk menjaga profitabilitas proyek.
“Melalui skema ini, sebagian kenaikan biaya dapat dikompensasi sehingga margin proyek lebih terjaga,” kata Imam.
Dari sisi emiten, Imam menilai PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) memiliki fundamental yang kuat. Perusahaan itu disebut memiliki arus kas operasional yang konsisten positif, posisi kas memadai, dan tingkat utang yang sangat rendah.
Fokus pada proyek swasta juga dinilai memberi fleksibilitas lebih besar dalam pengendalian biaya dan penyesuaian harga. Dengan karakter tersebut, TOTL dinilai lebih mampu menjaga margin di tengah kenaikan harga material.
Sukarno juga menilai sejumlah emiten konstruksi memiliki fundamental relatif kuat, yakni TOTL, NRCA, dan SSIA. Ketiganya disebut memiliki neraca yang lebih sehat serta eksposur yang lebih besar ke proyek swasta.
Sukarno merekomendasikan trading buy untuk TOTL dengan target harga Rp1.180 per saham, akumulasi beli NRCA dengan target Rp500 per saham, serta trading buy SSIA dengan target Rp1.760 per saham.
Ia juga memberikan rekomendasi trading buy untuk ADHI dengan target Rp175 per saham dan PTPP dengan target Rp216 per saham bagi investor dengan profil risiko lebih agresif. Sementara itu, Imam merekomendasikan beli saham TOTL dengan target harga Rp1.110 per saham.
PTPP Kantongi Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Surabaya Senilai Rp 151,9 Miliar
Sumber Global (SGER) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 92 Miliar
IHSG Berpeluang Konsolidasi pada Rabu (15/7/2026), Cermati Sentimennya










