Jakarta – Kerusakan alam akibat ulah manusia kembali menjadi sorotan dalam pengajian malam Idul Adha di Jakarta, Rabu (27/5/2026). Dalam tausiah itu, Dr. Afdholi Ali Rahman,SQ,MA menegaskan Alquran telah lama mengingatkan manusia agar menjaga keseimbangan bumi dan tidak memanfaatkan alam secara serampangan.
Afdholi menyebut kerusakan bumi oleh manusia terbagi ke dalam dua bentuk. Pertama,kerusakan fisik,yakni eksploitasi hasil bumi tanpa memerhatikan daya dukung alam.“Ada dua bentuk pengrusakan bumi oleh manusia. Pertama, merusak secara fisik, yaitu mengambil hasil bumi tanpa memikirkan keseimbangan alam,” ujar Afdholi.
Ia menegaskan bumi memang diciptakan untuk menyejahterakan manusia,tetapi ekosistemnya tetap harus dijaga. Karena itu, menurut dia, setiap bencana tidak semestinya langsung ditimpakan kepada alam.
“Pemerintah keras merawat alam, padahal 15 abad lalu Alquran sudah menggarisbawahi, menjaga keseimbangan alam. Ketika terjadi bencana, jangan alam yang disalahkan. Itu justru tanda manusia tak mampu menjaga alam,” katanya.
Afdholi menilai banyak bencana terjadi akibat ulah manusia sendiri, mulai dari pengerukan tambang tanpa rehabilitasi, pengurasan emas dan batu bara, hingga pembabatan hutan secara besar-besaran.bentuk kerusakan kedua adalah kerusakan nonfisik. Kerusakan ini, lanjut dia, muncul dari perilaku manusia yang dipenuhi dosa hingga memicu kehancuran moral dan sosial.Ia merujuk pada Alquran surat Al-Baqarah ayat 11 yang menggambarkan orang-orang yang membuat kerusakan di bumi, tetapi mengaku sebagai pihak yang justru memperbaiki.
Ia juga menyinggung surat Luqman ayat 20 yang menyebut Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan bumi untuk manusia sebagai nikmat. Menyia-nyiakan pemberian itu, kata dia, merupakan bentuk kufur nikmat.Afdholi menekankan konsep halal dalam Alquran selalu beriringan dengan tayib atau baik. Artinya,sumber daya yang halal tetap harus dimanfaatkan dengan cara yang benar dan tidak merusak lingkungan.
musibah, kata dia, tidak hanya menimpa pelaku perusakan alam. Warga yang tidak bersalah pun kerap ikut menjadi korban. ia mencontohkan maraknya penambangan liar di Sumatra Barat yang sempat ramai diberitakan, namun sulit dihentikan.
Hal itu, menurutnya, sejalan dengan surat Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.
“Musibah itu pada dasarnya ujian. Bagi orang saleh, musibah menjadi ujian. Bagi manusia yang setengah baik dan setengah buruk, musibah adalah peringatan.Tetapi kalau sudah menjadi persekot azab, itu untuk mereka yang tidak mengindahkan peringatan,” tuturnya.Ia menambahkan, musibah berkaitan dengan urusan dunia, sedangkan azab adalah urusan akhirat.Karena itu, orang saleh yang kerap tertimpa musibah bukan berarti dimurkai, melainkan terus diuji.
“Seperti kata orang bijak, pelaut hebat lahir dari gelombang dan badai dahsyat. demikian pula manusia yang berbrevet saleh,” ujarnya.
afdholi juga mengutip surat Al-Mulk ayat 2 yang menyatakan Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Hidup, menurut dia, adalah rangkaian ujian, baik dalam keadaan senang maupun susah.
“Manusia mengaku baik, tetapi Allah belum mengakuinya sebelum ia lulus dari ujian,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia menyebut tiga amalan untuk menghadapi dan membendung musibah, yakni memakmurkan masjid, mencintai sesama, dan memperbanyak istigfar.Amalan tersebut, kata dia, bersumber dari hadis qudsi.
Ia juga mengingatkan bahwa saat mendapat nikmat maupun cobaan, seorang hamba semestinya mengucapkan Innalillahi sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, sebab semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Lebih jauh, Afdholi menekankan bahwa Alquran telah mengatur seluruh aspek kehidupan hingga hari akhir, bahkan menggambarkan apa yang terjadi setelahnya. Karena itu, merusak alam dan menyakiti hewan dinilainya dapat menjadi penghalang seseorang masuk surga, terlebih jika menyakiti sesama manusia.“Surga adalah nikmat, tetapi ada yang lebih agung dari surga, yaitu berjumpa dengan Sang Khalik,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan umat Islam, khususnya yang berusia di atas 40 tahun, agar tidak berhenti pada membaca dan menghafal Alquran. Menurut dia, pemahaman dan pengamalan jauh lebih penting.
“Banyak dari kita yang hanya membaca dan menghafal, tanpa mengaktualkannya.jangan jadikan ibadah sekadar transaksi pahala,” ujar Adrian, salah seorang jemaah pengajian malam itu.











