Jakarta – Penurunan BI-Rate berpotensi menekan imbal hasil investasi dana pensiun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan penurunan BI-Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 menjadi 4,75 persen akan menjadi tantangan tersendiri.

Kepala Eksekutif Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menyatakan pengelolaan portofolio investasi dana pensiun akan menghadapi tantangan hingga 2026 akibat penurunan suku bunga acuan.

Ogi juga menyoroti pentingnya inovasi produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) agar adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Pengembangan digitalisasi menjadi kunci efektivitas pengelolaan dana.

Per Oktober 2025, OJK mencatat penempatan dana pensiun pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 4,09 triliun atau setara dengan 1,06 persen dari total investasi. Terjadi penurunan dibandingkan akhir 2024 seiring dengan berkurangnya penerbitan SRBI sepanjang 2025.

Investasi dana pensiun di pasar saham tercatat sebesar Rp 24,66 triliun, setara dengan 6,37 persen dari total investasi per Oktober 2025. Ogi menilai, membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap instrumen investasi saham, termasuk asuransi dan dana pensiun.

Secara keseluruhan, total aset industri dana pensiun tumbuh 9,82 persen year on year (yoy), mencapai Rp 1.647,49 triliun per Oktober 2025. Program pensiun sukarela mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 5,52 persen (yoy) dengan nilai Rp 400,44 triliun, sementara program pensiun wajib tumbuh 11,28 persen (yoy) mencapai Rp 1.247,05 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *