Silangit – Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat telah menyebabkan 178 orang meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 luka-luka.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menyampaikan perkembangan terkini penanganan bencana ini dalam konferensi pers di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Jumat (28/11).Di Sumatera Utara,116 orang meninggal dan 42 orang masih hilang.Korban tersebar di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Humbang Hasundutan, Kota Padang Sidempuan, dan Pakpak Barat.
“Per hari ini kami mendata korban meninggal dunia 116 dan 42 masih dalam pencarian,” ujar Suharyanto.
Sementara itu, Aceh mencatat 35 korban meninggal, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.”Ini akan berkembang terus datanya. Dan sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia,” kata Suharyanto.
Di Sumatra Barat, 23 korban meninggal, 12 orang hilang, dan 4 luka-luka. Korban tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, kota Padang, dan Pasaman Barat.
“Di Sumatra Barat itu 23 meninggal dunia, 12 hilang dan 4 luka-luka,” ungkap suharyanto.
Pemerintah pusat telah mengerahkan personel BNPB, TNI/Polri, serta dukungan lintas kementerian/lembaga untuk membantu penanganan bencana.Bantuan logistik dan peralatan juga telah disalurkan ke wilayah terdampak.
BNPB juga telah mendistribusikan alat penyedia jaringan internet Starlink ke lokasi pengungsian dan posko penanganan darurat untuk mengatasi gangguan jaringan telekomunikasi.
Sebagai respons terhadap peningkatan risiko bencana, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak di aceh, Sumatera Utara, dan sumatera Barat. Operasi ini bertujuan mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana.











