Jakarta – Perjanjian Dagang Timbal Balik (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dinilai kurang menguntungkan bagi Indonesia, menurut Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Peneliti CSIS, Riandy Laksono, menyatakan perjanjian ini lebih berpihak pada kepentingan komersial dan keamanan AS.

Riandy menegaskan bahwa isu utama bukan hanya mengenai tarif. "Bukan soal tarif," ujarnya dalam konferensi pers di kantor CSIS, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, hanya sebagian kecil ekspor Indonesia yang merasakan manfaat tarif 0 persen dari perjanjian tersebut. "Dari seluruh ekspor kita ke Amerika, hanya 24 persen yang mendapat tambahan 0 persen," jelas Riandy.

Ia menambahkan, ekspor Indonesia ke AS hanya mencakup 10 persen dari total perdagangan Indonesia. "Jadi, total akses pasar yang kita amankan dari total trade kita hanya 2 persen," imbuhnya.

Lebih lanjut, Riandy menyoroti mekanisme tariff rate quota pada produk tekstil yang mendapatkan tarif 0 persen. Kuota bebas tarif ini ditentukan berdasarkan penggunaan bahan baku asal AS.

Padahal, sebagian besar bahan baku tekstil Indonesia, seperti kapas dan man-made fiber, diimpor dari Cina.

Data CSIS menunjukkan, impor kapas dari AS hanya sekitar 8,6 persen, sementara dari Cina mencapai 29,4 persen. Untuk bahan baku man-made fiber, impor dari AS hanya 0,3 persen, sedangkan dari Cina mencapai 65,1 persen.

Harga bahan baku dari AS yang lebih mahal juga berpotensi mengganggu rantai pasok industri tekstil Indonesia.

Meski demikian, Riandy mengakui bahwa ART dapat menjadi langkah pengamanan bagi Indonesia dari ketidakstabilan kebijakan AS.

"Kalau kita nggak bisa mukul bullying, kita masuk geng itu paling nggak. Saya pikir itu jawabannya," pungkasnya.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menandatangani ART di Washington DC pada Jumat (20/2/2026). Penandatanganan ini sekaligus meresmikan pengenaan tarif produk Indonesia ke AS menjadi 19 persen.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa tujuan ART adalah untuk mewujudkan kemakmuran, mendukung rantai pasok yang kuat, dan menghormati kedaulatan kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *