Davos – Danantara Indonesia menargetkan peningkatan tiga kali lipat nilai aset kelolaan pada 2030 melalui transformasi dan konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Target ini disampaikan Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, di sela-sela Panel Diskusi World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026).

Saat ini, total aset Danantara tercatat sebesar US$ 900 miliar atau setara dengan Rp15,29 kuadriliun (kurs Rp16.985). Al-Arief menjelaskan, peningkatan aset akan dilakukan melalui penciptaan nilai secara bertahap.

Untuk mencapai target tersebut, Danantara berencana merampingkan jumlah BUMN dari 1.068 menjadi 221 entitas usaha dalam kurun waktu 3-4 tahun ke depan. Saat ini, ribuan perusahaan pelat merah yang menjadi portofolio Danantara dikelola oleh sekitar 50 holding di berbagai sektor.

Konsolidasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi, profesionalisme, dan daya saing global BUMN Indonesia. "Mungkin dalam 3-4 tahun, dari 1.068 perusahaan akan bertransformasi menjadi 200 lebih Badan Usaha Milik Negara yang dikelola secara profesional agar lebih kompetitif dalam jangka panjang," ujar Al-Arief.

Saat ini, dua BUMN dalam portofolio Danantara, yaitu Pertamina dan PLN, telah masuk dalam daftar Fortune 500. Al-Arief berharap transformasi ini akan mendorong lebih banyak BUMN Indonesia untuk masuk ke dalam daftar bergengsi tersebut.

Proses konsolidasi telah dimulai dengan tinjauan bisnis mendasar terhadap setiap lini usaha. "Nantinya, ada fase di mana mereka akan melakukan perampingan melalui penggabungan dan konsolidasi. Dan kemudian, akhirnya BUMN hasil konsolidasi tersebut dapat menciptakan lebih banyak nilai tambah," pungkas Al-Arief.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, merupakan bagian dari strategi diplomasi ekonomi pemerintah untuk memacu daya saing berbagai sektor perekonomian nasional.

Partisipasi Indonesia dalam forum yang digelar pada 19-22 Januari 2026 tersebut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Danantara Indonesia, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *