Padang – Seorang ayah di Padang merenungkan tiga level kesadaran ala Paulo Freire saat menanti kelahiran putri pertamanya pada Agustus 2005. Kegelisahan muncul seiring kondisi istri yang sakit dan persiapan ujian kuliah.
Ayah tersebut bergulat dengan pemikiran Freire tentang kesadaran magis, naif, dan kritis. Pemikiran ini muncul di tengah situasi genting saat itu.
Menurut Freire, kesadaran magis membuat manusia melihat masalah sebagai takdir dan menyalahkan kekuatan supranatural. “Orang-orang tahu bahwa sesuatu sedang terjadi, tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka dapat melakukan sesuatu untuk mengubahnya,” tulis Freire.
Kesadaran naif, lanjut Freire, cenderung menyalahkan individu atas masalah struktural. Orang dengan kesadaran ini mudah percaya pada janji tokoh karismatik tanpa menguji kebenaran struktural di baliknya.
Freire menjelaskan, kesadaran transitif naif ditandai dengan penyederhanaan masalah dan penjelasan yang dangkal.Mereka percaya pada perubahan instan dan pemimpin penyelamat.
Di tengah hujan deras dan banjir yang melanda Kota Padang pada 26 Agustus 2005, sang ayah bergegas ke rumah sakit. Istrinya yang hampir melahirkan juga berjuang menuju rumah sakit dengan taksi.
Freire menjelaskan, kesadaran kritis bekerja secara struktural, reflektif, dialogis, dan transformatif. Kesadaran ini menuntut proses dialogue antara aksi dan refleksi.
“kesadaran transitif yang kritis ditandai dengan penafsiran yang mendalam atas berbagai masalah,” tulis Freire.
Kesadaran kritis mendorong manusia untuk memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, serta mengambil tindakan melawan kondisi yang menindas. Dengan kesadaran kritis, manusia menjadi subjek yang menuliskan sejarahnya sendiri.
Sang ayah merenungkan bahwa kesadaran kritis bersifat humanistik, menolak dehumanisasi, dan mengembalikan martabat manusia sebagai subjek. Sabtu dini hari, ia membisikkan panggilan sholat di telinga anak yang baru lahir.











