Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menutup 316 perlintasan sebidang yang dinilai rawan kecelakaan sepanjang tahun 2025. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan kelancaran mobilitas masyarakat.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan penutupan ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak. "KAI telah menutup 316 perlintasan sebidang sepanjang 2025 yang dinilai rawan kecelakaan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).
KAI menggandeng pemerintah pusat dan daerah, kepolisian, TNI, serta kementerian dan lembaga terkait dalam upaya ini. Menurut Anne, perlintasan sebidang menjadi titik temu antara perjalanan kereta api dan pengguna jalan.
Oleh karena itu, KAI memperkuat komitmen keselamatan dengan menutup perlintasan berisiko dan meningkatkan edukasi publik. Selain itu, KAI juga memperkuat penegakan aturan demi melindungi pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
"Penutupan ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih tertib, sekaligus mendukung agenda nasional peningkatan keselamatan transportasi," tegas Anne. KAI juga menggalakkan pendekatan edukatif untuk membangun budaya disiplin berlalu lintas.
Sepanjang 2025, KAI telah melaksanakan 2.016 kegiatan sosialisasi keselamatan di sekitar jalur kereta api. Selain itu, KAI juga menggelar 212 kegiatan edukasi ke sekolah, 687 pemasangan spanduk keselamatan, serta 655 kegiatan TJSL di lingkungan stasiun.
Sebagai bagian dari pengamanan Ruang Manfaat Jalur Kereta Api (RUMAJA), KAI juga melakukan 52 penertiban bangunan liar di area yang berpotensi mengganggu perjalanan kereta api. KAI mengajak masyarakat untuk menjadikan tertib di perlintasan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.











