Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan kondisi darurat kesehatan mental pada anak-anak di Indonesia. Data Maret 2026 menunjukkan jutaan anak usia 7-17 tahun mengalami tekanan psikologis signifikan.
Temuan ini berasal dari skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap 7 juta anak. Hasilnya, 363.326 anak (4,8 persen) terdeteksi mengalami gejala depresi, dan 338.316 anak (4,4 persen) menunjukkan gejala kecemasan.
Data ini menempatkan generasi muda sebagai kelompok paling rentan. Tingkat tekanan psikologis pada anak lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa dan lansia.
Secara statistik, dalam satu kelas berisi 30 siswa, setidaknya tiga anak berjuang melawan depresi atau kecemasan. Temuan ini menjadi peringatan serius untuk memberikan perhatian lebih pada kesehatan mental anak.
Berbeda dengan penyakit fisik, gangguan kesehatan mental pada anak sering kali tidak terlihat. Banyak orang tua baru menyadari masalah ketika kondisi psikologis anak sudah serius.
Gejala yang muncul cenderung halus. Anak yang sebelumnya aktif tiba-tiba kehilangan minat pada aktivitas yang disukai.
Selain itu, anak cenderung menarik diri dari pergaulan sosial dan menjadi lebih mudah tersinggung. Banyak dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sebagai pelarian dari tekanan yang sulit diungkapkan.











