Jakarta – Keyakinan konsumen Indonesia terhadap kondisi ekonomi mengalami penurunan pada Februari 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 125,2, lebih rendah dibandingkan Januari yang mencapai 127,0.

Penurunan IKK ini disebabkan oleh melemahnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan mendatang.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan keterangan tertulis terkait data IKK tersebut pada Senin (9/3/2026).

IKK merupakan hasil perhitungan rata-rata antara Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Secara rinci, IEK tercatat menurun menjadi 134,4 dibandingkan Januari. Sementara itu, IKE justru menunjukkan kenaikan tipis menjadi 115,9 secara bulanan.

BI mencatat, mayoritas kelompok pengeluaran mengalami penurunan IKK, kecuali kelompok dengan pengeluaran Rp 3,1–4 juta per bulan yang justru mengalami peningkatan.

Meskipun demikian, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari IKE Februari 2026 yang mencapai 115,9.

Kenaikan IKE didorong oleh peningkatan seluruh komponen pembentuknya, yaitu indeks penghasilan saat ini (IPSI), indeks ketersediaan lapangan kerja (IKLK), dan indeks pembelian barang tahan lama (IPDG).

Namun, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan mengalami pelemahan.

Hal ini tercermin dari IEK Februari 2026 yang sebesar 134,4, menurun dibandingkan Januari yang mencapai 138,8.

Penurunan tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi enam bulan mendatang dipengaruhi oleh penurunan ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.

Selain itu, BI juga mencatat penurunan proporsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi menjadi 71,6 persen pada Februari 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 72,3 persen.

Proporsi pembayaran cicilan atau utang juga mengalami penurunan menjadi 10,6 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 11,2 persen.

Sebaliknya, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan meningkat menjadi 17,7 persen, dibandingkan Januari yang sebesar 16,5 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *