Jakarta – Konflik yang meningkat antara Iran dan Israel menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan biaya logistik global hingga tiga kali lipat. Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama, mengancam kelancaran perdagangan dunia.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyampaikan kekhawatiran tersebut. Sekretaris Jenderal ALFI, Trismawan Sanjaya, mengungkapkan potensi kenaikan harga sea trade dalam waktu dekat.

Banyak perusahaan pelayaran kini membatalkan perjalanan melalui Selat Hormuz. Peningkatan risiko keamanan pelayaran menjadi alasan utama.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah, termasuk di Selat Hormuz, meningkatkan risiko tersebut.

Penundaan pelayaran memaksa perusahaan pelayaran menghitung ulang tiga komponen biaya logistik. Komponen tersebut meliputi fuel adjustment factor (FAF), premi asuransi perang, dan biaya kongesti.

Trismawan mencontohkan, FAF yang normalnya US$ 100 per kontainer, berpotensi melonjak menjadi US$ 300 akibat kenaikan harga minyak dan ketidakpastian perang.

Kapal-kapal terpaksa mencari rute alternatif, seperti melalui Afrika Selatan. Hal ini akan menambah waktu tempuh pelayaran secara signifikan.

Waktu tempuh yang biasanya dua pekan melalui Selat Hormuz, kini bisa mencapai 45 hari. Konsumsi bahan bakar pun akan meningkat.

Biaya kongesti juga diperkirakan membengkak sekitar US$ 100 per kontainer. Kemacetan di pelabuhan menjadi penyebabnya, karena tidak mampu menampung volume kapal seperti di Selat Hormuz.

Konflik ini tidak hanya berdampak pada biaya logistik global, tetapi juga berpotensi memicu pembengkakan biaya logistik domestik.

Menghadapi situasi ini, Trismawan menyarankan agar importir meningkatkan pembelian barang. Tujuannya, untuk memastikan ketersediaan pasokan di Indonesia yang masih bergantung pada pengadaan luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *