Jakarta – Rupiah mengalami pelemahan hingga mencapai Rp 17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Pelemahan ini diperkirakan akan berlanjut, dengan proyeksi pergerakan antara Rp 17.100 hingga Rp 17.150 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa menguatnya indeks dolar AS dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pasar bereaksi terhadap ketegangan yang dipicu oleh tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
"Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 7 April 2026.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah Iran menolak proposal gencatan senjata selama 45 hari. Iran menuntut penghentian permusuhan secara permanen, jaminan terhadap serangan di masa depan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang terjadi.
Di dalam negeri, Ibrahim menyoroti kerentanan fiskal Indonesia akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global dinilai menjadi beban berat bagi anggaran negara.
Menurutnya, kenaikan harga minyak yang melampaui asumsi APBN akan memperbesar beban subsidi energi. Kondisi ini diperparah dengan desain subsidi berbasis komoditas yang dinilai belum tepat sasaran.










