Medan – Pengamat menyampaikan kekhawatiran atas kondisi bangsa dan negara yang terancam keruntuhan, Sabtu (9/8/2025). Ia menyoroti merosotnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan stagnasi ekonomi.
Pengamat tersebut menyoroti praktik Machiavelisme yang dianggap mengakar kuat dalam rezim saat ini. Paham ini menekankan stabilitas kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
“Kuatkan penguasa, lemahkan rakyat. Begitulah sederhananya,” ujarnya.
Ia menilai penguasa menggunakan cara-cara pragmatis untuk memenuhi ambisi kekuasaannya. Sementara rakyat dipaksa tunduk pada aturan yang ketat dan cenderung memaksa.
Menurutnya, kondisi ini merupakan titik balik kegagalan demokrasi liberal yang terpuruk akibat beban ekonomi kapitalistik.
Pengamat itu juga menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Seperti korupsi, beban pajak, utang luar negeri, serta prahara politik dan ekonomi yang tak kunjung membaik.
Ia bahkan menyinggung pembatasan kebebasan berekspresi. “Jika kata-kata di media sosial pun sudah mulai diseleksi, lalu apa lagi yang bisa diharapkan?” tanyanya.
Ia mengingatkan, keruntuhan bangsa dan negara juga ditandai dengan meningkatnya kekerasan dan kerusuhan massal. Seperti yang terjadi pada tahun 1965, 1974, dan 1998.
Meski demikian,ia mengajak masyarakat untuk tidak menyerah dan berdiam diri. Ia menekankan pentingnya membangun kekuatan dari tingkat rumah tangga dan organisasi.
“Transformasi sosial akan menang melawan rekayasa sosial yang dilakukan rezim jika rumah tangga di negeri ini bertransformasi menjadi rumah tangga yang kuat,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk membuang mental jongos, takhayul feodal, dan kepicikan sosial. “Saatnya kembali, menyesap bau tanah bekas hujan yang wangi. Tanah yang mendukung kehidupan negeri ini. Saya jatuh cinta lagi padamu, Indonesia,” pungkasnya.











