Jakarta – Moody’s Investors Service menurunkan prospek utang Indonesia menjadi "negatif" dari "stabil," mengkhawatirkan pengelolaan fiskal, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peringkat utang Indonesia tetap Baa2, satu tingkat di atas layak investasi.
Penurunan outlook mengindikasikan potensi penurunan peringkat utang di masa depan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai langkah Moody’s sebagai peringatan dini.
Bhima menyoroti potensi pembengkakan anggaran program MBG dan implementasinya yang dinilai bermasalah. "Implementasinya bermasalah, bahkan mengambil efisiensi dari dana pendidikan, efisiensi dari transfer daerah," ujarnya.
Moody’s menyoroti pendanaan program MBG dan perumahan rakyat sebagai faktor utama penurunan peringkat. Lembaga tersebut melihat risiko basis pendapatan pajak rendah yang dapat memperlebar defisit APBN.
Selain itu, program-program tersebut berpotensi didanai dengan memangkas anggaran kementerian lain, termasuk biaya pemeliharaan infrastruktur. Moody’s juga mengingatkan pemerintah untuk tidak menaikkan batas defisit fiskal di atas 3 persen PDB.
Penurunan peringkat utang berpotensi memicu aliran modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). "Sementara pemerintah mau menerbitkan surat utang sekitar Rp 800 triliun tahun ini," kata Bhima.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026, pemerintah menargetkan penarikan utang baru senilai Rp 832,20 triliun, yang akan dipenuhi dengan penerbitan SBN sebesar Rp 799,5 triliun. Sisanya akan dipenuhi melalui pinjaman dalam dan luar negeri sebesar Rp 32,6 triliun.
Pemangkasan peringkat juga dapat menyebabkan kreditur meminta bunga yang lebih tinggi atas pinjaman yang diberikan. Bhima menjelaskan bahwa pembayaran bunga yang lebih tinggi akan menciptakan lingkaran utang yang semakin membengkak.
Jika tidak ada perbaikan dalam pengelolaan fiskal, peringkat utang Indonesia berisiko turun menjadi Baa3, yang akan memicu bunga utang yang lebih mahal, pelemahan rupiah, dan beban APBN yang semakin berat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tidak khawatir peringkat utang Indonesia akan turun. Ia memastikan pemerintah akan berupaya menggenjot pertumbuhan ekonomi.
"Lembaga pemeringkat sebenarnya menilai untuk melihat apakah kita mampu bayar hutang atau mau bayar hutang. Dua-duanya kita penuhi. Jadi seharusnya enggak ada masalah," kata Purbaya.











