Jakarta – Telkom Indonesia memperkuat bisnis pusat data melalui NeutraDC Group, anak usahanya, merespons lonjakan kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah strategis ini diambil di tengah ketatnya persaingan infrastruktur digital di Asia Pasifik.

Kepala Eksekutif NeutraDC Group, Andreuw Th.A.F., menyatakan penguatan ini sejalan dengan arah strategis perusahaan dalam menghadapi pertumbuhan digital. "Kami ingin membangun infrastruktur yang tidak hanya andal dan aman, tetapi juga siap mendukung akselerasi AI," ujar Andreuw.

Menurutnya, kebutuhan infrastruktur pendukung AI bukan lagi proyeksi jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak saat ini. NeutraDC tidak hanya memperluas kapasitas, tetapi juga mengintegrasikan layanan Colo, Connect, dan Compute. Tujuannya, mendukung orkestrasi konektivitas dan komputasi dalam satu sistem terpadu.

"Kami menempatkan diri sebagai penggerak ekosistem digital yang menyatukan infrastruktur, konektivitas, dan layanan komputasi," jelas Andreuw. Strategi ini selaras dengan ekspansi fasilitas di Jakarta, pembangunan pusat data berskala besar di Batam, serta operasional di Singapura.

Kehadiran di Singapura dinilai strategis karena negara tersebut merupakan pusat interkoneksi dan lalu lintas data terbesar di Asia Pasifik. Dengan titik operasional di sana, NeutraDC dapat menghubungkan ekosistem domestik dengan jaringan global secara lebih efisien.

NeutraDC juga menghadirkan opsi arsitektur hybrid dan disaster recovery lintas negara bagi pelanggan di Indonesia. NeutraDC Singapura telah memperoleh lisensi Services-Based Operator (SBO), yang memungkinkan penjualan kembali layanan konektivitas secara resmi.

Lisensi ini memperkuat aspek kepatuhan regulasi perusahaan di tingkat regional dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Fasilitas NeutraDC di luar negeri menjadikan perusahaan ini sebagai operator data center asal Indonesia dengan jejak operasional internasional.

Model ini memberikan nilai tambah berupa konektivitas regional yang lebih kuat, redundansi lintas negara, serta fleksibilitas arsitektur hybrid. "Dengan model tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumsi data, tetapi juga bagian dari rantai nilai infrastruktur digital regional," pungkas Andreuw.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *