Jakarta – Masyarakat Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kejahatan siber yang semakin canggih. Penipuan digital melalui phishing, smishing, dan penyebaran malware menjadi ancaman utama bagi keamanan data pribadi.

Pendiri dan Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, menjelaskan bahwa phishing dan smishing menjerat korban dengan iming-iming tautan berbahaya. Tautan tersebut mengarahkan korban untuk memberikan data pribadi seperti username, password, dan One-Time Password (OTP) melalui SMS.

Pelaku kejahatan sering menyamar sebagai kurir logistik atau menawarkan promo palsu. Bahkan, pelaku menggunakan metode fake BTS untuk mengirim pesan massal yang terlihat resmi.

Modus lain yang marak adalah penyebaran malware melalui aplikasi berbahaya berformat APK. Pelaku menggunakan berbagai cara untuk mengelabui korban, seperti menyamar sebagai dokumen pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen penting lainnya.

Setelah terunduh, aplikasi berbahaya tersebut memungkinkan pelaku memantau perangkat dari jarak jauh dan mencuri informasi sensitif.

Niki Santo Luhur menegaskan bahwa password dan OTP saja tidak cukup untuk melindungi keamanan digital. "Mengingat maraknya kebocoran data dan teknik penipuan yang terus berkembang, password dan OTP tidak lagi menjadi satu-satunya cara verifikasi yang aman," ujarnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap perangkat dan identitas biometrik perlu ditingkatkan sebagai lapisan keamanan tambahan.

Sebagai informasi, tren serangan siber di Indonesia berada pada level kewaspadaan tinggi, dengan rata-rata 15 serangan siber per detik pada semester II 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *