Jakarta – Indonesia menghadapi peningkatan dramatis dalam serangan siber, dengan lebih dari 234 juta insiden terdeteksi selama semester II 2025, setara dengan 15 serangan per detik. Data dari AwanPintar.id, platform intelijen ancaman siber nasional, menunjukkan lonjakan 75,76 persen dibandingkan semester sebelumnya.
Laporan AwanPintar.id, berjudul "Indonesia Waspada: Ancaman Digital di Indonesia Semester II 2025," mengungkapkan bahwa Indonesia kini menjadi sumber utama serangan spam dan malware. Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, menyatakan bahwa pelaku serangan siber di Indonesia semakin terorganisir.
"Pelaku serangan siber dalam negeri tidak lagi hanya bergerak secara individu, melainkan mulai menunjukkan pola kerja sama yang terorganisir untuk menargetkan layanan publik dan platform ekonomi," ujar Yudhi, Minggu (22/2/2026). Lonjakan serangan pada Desember 2025 dipicu oleh Distributed Denial of Service (DDoS) dan eksploitasi transaksi ekonomi digital, mencapai 90.590.833 serangan.
Upaya pencurian hak akses admin pada sistem Windows (Attempted Administrator Privilege Gain) juga meningkat signifikan, naik 57,74 persen. Pelaku serangan siber semakin agresif mengeksploitasi kerentanan sistem operasi yang belum diperbarui dan menggunakan serangan DDoS untuk melumpuhkan infrastruktur penting.
Kembalinya botnet Mirai, yang terdeteksi sejak semester I 2025, turut menyumbang kenaikan serangan. Botnet berbasis Linux ini menginfeksi perangkat IoT dan menjadikannya jaringan botnet untuk melancarkan serangan DDoS skala besar. Penjahat siber juga memanfaatkan celah keamanan (backdoor) untuk merebut hak akses admin secara diam-diam, lalu melancarkan ransomware atau pencurian data.
Yudhi menekankan perlunya peningkatan edukasi literasi keamanan di seluruh lapisan masyarakat untuk menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks ini.










