Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tarif listrik menjadi pemicu utama inflasi pada Februari 2026. Kenaikan tarif listrik tercatat mencapai 86,96 persen secara tahunan, memberikan andil sebesar 2,17 persen terhadap inflasi keseluruhan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang utama inflasi year-on-year, dengan andil sebesar 2,26 persen. Lonjakan inflasi tarif listrik ini dipicu oleh penormalan harga setelah pemerintah memberikan diskon 50 persen pada Januari-Februari 2025.

Secara keseluruhan, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi tahunan sebesar 16,19 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan secara umum yang tercatat 4,76 persen. Selain tarif listrik, komoditas lain dalam kelompok ini yang turut menyumbang inflasi adalah biaya sewa rumah (0,03 persen), biaya kontrak rumah (0,02 persen), bahan bakar rumah tangga (0,01 persen), tarif tukang bukan mandor (0,01 persen), dan tarif air minum PAM (0,01 persen).

Di luar kelompok tersebut, komoditas lain yang memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan (1,06 persen), ikan segar (0,23 persen), daging ayam ras (0,22 persen), beras (0,15 persen), bawang merah (0,09 persen), hingga telur ayam ras (0,06 persen). Sementara itu, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya yang mengalami deflasi tahunan, yaitu sebesar 0,09 persen.

Inflasi tahunan pada Februari 2026 didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah dengan inflasi 12,66 persen dan andil 2,26 persen. Komoditas yang memberikan andil inflasi dominan dalam komponen tersebut adalah tarif listrik, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT). Komponen bergejolak juga mencatat inflasi tahunan sebesar 4,64 persen dengan andil inflasi 0,78 persen. Komoditas penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, beras, bawang merah, dan telur ayam ras. Inflasi tahunan juga terjadi pada komponen inti sebesar 2,63 persen dengan andil inflasi 1,72 persen.

Ateng memaparkan, "Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap komponen inti yaitu emas perhiasan, biaya akademis atau perguruan tinggi, mobil, sewa rumah, dan juga nasi dengan lauk."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *