Padang – Tradisi merantau, warisan budaya Minangkabau, terus mendorong generasi muda untuk mencari ilmu dan pengalaman di berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Mahasiswi Sastra Jepang Universitas Andalas, Maulita Putricia, menyebut merantau sebagai wujud kecintaan pada kampung halaman.
“Merantau adalah bagian dari tanda kecintaan kepada kampung halaman,” ungkap Maulita, mengutip pepatah Minang “Sayang jo anak dilacuik i, sayang jo kampuang ditinggakan.”
Pepatah ini bermakna bahwa merantau adalah upaya membangun kampung halaman. Ikatan sosial yang kuat antar perantau menjadi modal penting untuk berkontribusi pada daerah asal.
Sejarah mencatat tokoh-tokoh Minangkabau sukses di perantauan, seperti Mohammad Hatta dan Tan Malaka, menjadi inspirasi bagi generasi muda.
“Adanya cerita orang-orang terdahulu yang sukses dalam perantauan merupakan motivasi tersendiri bagi kami mahasiswa Sastra Jepang,” kata Maulita.
Tradisi merantau kini mengalami evolusi. Jika dulu hanya laki-laki yang merantau, kini perempuan juga banyak yang menuntut ilmu dan bekerja di luar daerah.
Bagi masyarakat Minangkabau, merantau bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pembuktian diri, kemandirian, dan adaptasi.
“Sudah tidak tabu lagi jika menemukan perantau dengan asal yang sama dengan saya, baik untuk meneruskan pendidikan maupun bekerja,” ujar Nabila Oktaf Putri, mahasiswa perantau asal Payakumbuh.
Kontribusi ekonomi perantau Minang sangat signifikan bagi daerah asal, menjadi aset terbesar bagi tanah kelahiran mereka.
semangat merantau yang kuat telah mengantarkan banyak orang Minang meraih kesuksesan di berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.











