Jakarta – Perbankan nasional diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko akibat ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menekankan pentingnya mitigasi risiko untuk menjaga stabilitas sektor keuangan.
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menyebutkan ketegangan geopolitik dapat memicu inflasi energi dan pangan. Hal ini berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
"Ketidakpastian ekonomi juga menekan kinerja sektor usaha," kata Hery dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Hery, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menggarisbawahi tiga langkah strategis yang perlu disiapkan perbankan.
Pertama, perbankan harus memperkuat manajemen risiko. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan stress test sektoral pada portofolio di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang bergantung pada bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, penerapan early warning system terhadap potensi peningkatan kredit bermasalah (NPL) menjadi krusial. Pengetatan disiplin kredit dan penerapan risk-based pricing juga perlu dilakukan.
Kedua, perbankan perlu memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai. Hal ini penting untuk menghadapi potensi volatilitas arus dana dengan memperkuat Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).
"Tak ada pilihan lain, perbankan harus memiliki bantalan arus kas yang cukup," tegas Hery.
Ketiga, pengelolaan risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing (valas) harus diperketat. Perbankan perlu menjaga posisi devisa neto (PDN) tetap konservatif.
Penguatan strategi lindung nilai (hedging) untuk eksposur valas, serta pengelolaan maturity mismatch valas juga menjadi perhatian utama.
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Deden Firman Hendarsyah, menilai kondisi perbankan nasional saat ini masih cukup kuat. Terutama dari sisi indikator permodalan dan likuiditas.
"Demikian pula dari sisi likuiditas, kondisinya masih ample dan seluruh indikator utama berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator," ujar Deden.
Hery menambahkan, fundamental industri perbankan nasional masih solid meski menghadapi tantangan pada kuartal I.
Pertumbuhan kredit per Januari 2026 tercatat 9,96 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan 2025 sebesar 9,63 persen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,48 persen secara year on year, dengan rasio NPL terjaga di kisaran 2,14 persen.
Ketahanan permodalan industri perbankan juga tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 25,87 persen.
"Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kita harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan," pungkas Hery.











