Jakarta – Ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi di tengah tantangan global. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,5 hingga 6 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap dampak konflik geopolitik yang meningkat.
"Jadi teman-teman enggak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan karena posisi kita dari posisi yang kuat," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Stabilitas makroekonomi domestik menjadi fondasi optimisme pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian global.
Indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur mencapai 53,8 pada Februari 2026, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut. Cadangan devisa juga berada pada level yang memadai, yakni US$ 152 miliar.
Aktivitas ekonomi terus menguat sejak kuartal IV 2025 dan berlanjut hingga awal 2026. Hal ini memperkuat optimisme dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Daya beli masyarakat juga menunjukkan perbaikan, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Mandiri Spending Index mencapai 360,7 pada Februari 2026, didorong oleh peningkatan konsumsi pada sektor barang konsumsi, pendidikan, dan mobilitas.
Penjualan ritel masih tumbuh, sementara indeks keyakinan konsumen tetap tinggi.
Sektor otomotif juga mencerminkan perbaikan daya beli. Penjualan mobil tumbuh dua digit sebesar 12,2 persen pada Februari 2026, sementara penjualan sepeda motor juga tumbuh positif sekitar 1 persen.
Pemerintah meyakini tren positif ini akan terus berlanjut.











