Padang – DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Padang menyoroti tajam krisis integritas dan representasi pemuda dalam kancah politik nasional melalui diskusi publik bertajuk “Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda” di Nara Space, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah kritik terhadap fenomena politik saat ini, terutama terkait isu keterwakilan generasi muda dan polemik ijazah yang melibatkan elite politik.
Ketua DPC GMNI Padang, Aldhy Darza Yustika, menegaskan bahwa kemunculan figur seperti Gibran Rakabuming Raka tidak semestinya dianggap sebagai representasi kemenangan bagi seluruh generasi muda.
Kritik serupa datang dari perwakilan LBH Padang, Mitra Oktavia, yang menyoroti rapuhnya penegakan hukum dan akuntabilitas di Indonesia.
Menurut Mitra, kondisi tersebut menuntut pemuda untuk memperkuat konsolidasi di tingkat akar rumput.
“Akuntabilitas dari hukum kita masih belum efektif, maka kita perlu menyatukan kekuatan pemuda yang sebenarnya untuk menggugat hak kita sebagai pemuda,” ujar Mitra dalam forum tersebut.
Di sisi lain, Presiden Mahasiswa Universitas Baiturrahmah, Nova Rahmadani, mendesak agar gerakan mahasiswa lebih berani memberikan tekanan politik yang konkret.
Ia menyoroti adanya kesenjangan tajam antara kemudahan yang dinikmati elite politik dengan kesulitan yang dihadapi masyarakat awam dalam isu-isu krusial.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut juga melibatkan peserta, seperti Teddi Berlian, yang memberikan catatan kritis mengenai faktor-faktor di balik dinamika politik elektoral saat ini.
Rangkaian acara ditutup dengan kesepakatan kolektif untuk terus mengawal literasi politik serta mempererat solidaritas gerakan anak muda di wilayah Sumatera Barat.










