Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Jumat (13/3/2026), dengan minyak mentah Brent menembus level US$ 100 per barel, diikuti kenaikan harga minyak West Texas Intermediate (WTI).
Data dari Trading Economics menunjukkan harga kontrak berjangka minyak mentah Brent mencapai US$ 101 per barel pada pukul 14.00 WIB, sementara minyak WTI berada di level US$ 97 per barel. Sebelumnya, harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 117 per barel pada 9 Maret 2026, melampaui rekor sebelumnya pada Kamis (12/3/2026) yang mencapai US$ 100 per barel.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memperkirakan defisit APBN akan melebar menjadi 3,6-3,7 persen dari PDB jika harga minyak menembus US$ 92 per barel.
Purbaya menjelaskan Indonesia pernah mengalami lonjakan harga minyak hingga US$ 150-200 per barel, namun kondisi tersebut tidak membuat ekonomi terpuruk, melainkan memperlambat pertumbuhan. Pemerintah akan terus memantau dampak kenaikan harga minyak global selama sebulan ke depan.
Untuk mengantisipasi defisit, pemerintah akan memantau efisiensi anggaran, termasuk program makan bergizi gratis (MBG). "MBG enggak akan dipotong, kecuali yang tidak produktif," tegas Purbaya.
Pemerintah akan meninjau kembali anggaran yang dianggap tidak perlu, seperti pengadaan motor baru dan komputer. Evaluasi akan fokus pada pengadaan barang yang tidak terkait dengan makanan, untuk memastikan efektivitas dan efisiensi belanja MBG.
Setelah sebulan, pemerintah akan menghitung kembali dampak harga minyak untuk menentukan kebijakan yang tepat. Pada 9 Maret 2026, saat harga minyak dunia melonjak, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan. Rupiah juga melemah hingga Rp 17 ribu per dolar AS.











