Solok – Kementerian Agama Kota Solok mengajak umat Islam memaknai Isra Mikraj sebagai momentum perbaikan moral dan sosial. Peristiwa ini mengandung pesan mendalam, bukan sekadar perjalanan spiritual.

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kota Solok, Irawadi Uska, menyampaikan hal ini baru-baru ini.

Irawadi menjelaskan, Isra Mikraj terjadi saat Nabi Muhammad SAW mengalami masa sulit, disebut ‘am al-huzn (tahun kesedihan mendalam).

Perintah shalat dalam Isra Mikraj, menurut Irawadi, menghubungkan langit dan bumi, yaitu komunikasi vertikal dengan Allah SWT, dan horizontal dengan sesama.

"Kemaslahatan sosial dan kebaikan moral akan lahir ketika nilai-nilai shalat diinternalisasi dalam jiwa seorang hamba secara baik," tegasnya.

Nilai shalat seperti disiplin waktu, kesetaraan, dan kepatuhan, menumbuhkan budaya saling menghormati, keadilan, dan kepedulian.

Irawadi melanjutkan, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan siksaan neraka akibat perilaku sosial dan moral, seperti ghibah, tidak membayar zakat, dan selingkuh.

"Dari sekian banyak tafsir, menjemput atau terbawanya perintah shalat adalah pendapat terkuat tentang esensi Isra Mikraj," ungkap Irawadi.

Ia mengajak umat Islam untuk "melangitkan diri seraya membumikan shalat", menyeimbangkan aspek spiritual dan praktis dalam hidup.

"Melangitkan diri berarti mengangkat jiwa dan kesadaran menuju hadirat Allah SWT, sementara membumikan shalat berarti menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *