Padang – Kota Padang menghadapi tantangan serius dalam mengelola perkembangan ekonomi di tengah kondisi lingkungan yang semakin memburuk. Meskipun memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban dan industri sejak abad ke-19, saat ini perekonomian kota lebih banyak didorong oleh sektor perdagangan dibandingkan industri.

Banjir rutin yang melanda Padang sejak 2009 semakin parah dengan frekuensi tiga hingga empat kali setahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 27 kejadian banjir pada 2017, sementara pada Juli 2023 puluhan titik terendam air dengan ketinggian dua hingga tiga meter. Bahkan pada Agustus 2026, di tengah kemarau nasional, masih terdapat 15 lokasi yang terendam air setinggi satu setengah meter.

kondisi ini mencerminkan ketidakmampuan pengelolaan drainase dan sungai secara efektif oleh pemerintah kota. Sungai Batang Kuranji mengalami pelebaran drastis dari sekitar 15 meter menjadi sekitar 150 meter akibat galodo pada November 2025, memperparah risiko banjir.

Secara ekonomi, Padang menghasilkan sekitar Rp61 triliun per tahun atau Rp5 triliun per bulan menurut BPS. Namun ada potensi besar yang sering terlupakan yaitu kontribusi mahasiswa. Dengan jumlah sekitar 175 ribu mahasiswa-terbanyak di Sumatera Barat-belanja mereka diperkirakan mencapai lebih dari Rp3 triliun per tahun, melebihi anggaran belanja daerah (APBD) Padang tahun 2025 sebesar Rp2,86 triliun.

Sayangnya kontribusi besar mahasiswa tersebut belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan maupun fasilitas pendukung seperti transportasi murah dan ruang belajar memadai.

Selain itu,Kota Padang menghadapi dilema karena sudah lama berhenti mengembangkan industri pengolahan sendiri. Banyak sarjana diekspor ke luar daerah tanpa memberikan nilai tambah bagi kampung halaman mereka. Saat ini Perusahaan Semen Padang menjadi satu-satunya pabrik tersisa setelah banyak pabrik lain tutup.

Untuk membalikkan keadaan tersebut diperlukan langkah konkret seperti normalisasi sungai dan drainase sebelum musim hujan serta penghijauan hulu Sungai Kuranji dan Air Dingin guna mengurangi risiko banjir secara signifikan.

Kolaborasi antara pemerintah kota dengan perguruan tinggi serta perusahaan seperti Semen Padang dan Pelindo Teluk Bayur juga sangat dibutuhkan untuk merancang lima industri pengolahan baru dalam lima tahun ke depan dengan target jelas yang diumumkan kepada publik agar realisasinya dapat dipantau bersama.

Potensi laut juga menjadi peluang besar bagi Kota Padang melalui Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus-satu-satunya pelabuhan ekspor tuna segar langsung ke Jepang serta tuna loin beku ke Amerika Serikat di Pulau Sumatera. Namun kapasitas produksi saat ini masih kecil yakni hanya sekitar 500 ton tuna olahan per tahun senilai Rp22 miliar padahal potensi lautnya sangat luas berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Samudera Hindia nomor 572.

Jika dikelola serius dengan peningkatan kapasitas produksi hingga minimal dua ratus ton sehari dalam sepuluh tahun mendatang maka nilai tambah produk ikan bisa berlapis mulai dari ekspor segar sampai produk olahan kaleng maupun tepung ikan sehingga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat lokal.

Data kunjungan investor asing sembilan tahun lalu menunjukkan minat pasar internasional terhadap produk udang, patin maupun nila asal Sumatera Barat sudah ada namun belum dimanfaatkan optimal oleh Pemkot maupun provinsi karena kurangnya kesungguhan menggarap potensi tersebut secara terpadu dan terencana sejak dini.

Memasuki ulang tahunnya yang ke-357 pada Agustus ini seharusnya menjadi momentum bagi Kota Padang untuk bangkit kembali sebagai pencipta inovasi baru demi masa depan warganya agar tidak tertinggal zaman akibat lupa akan jati dirinya sebagai pusat kemajuan regional sekaligus rumah bersama seluruh anak muda penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *