Sawahlunto – PLTU Ombilin Sijantang, pembangkit listrik yang telah beroperasi selama 33 tahun, memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan listrik di wilayah Sumatera, dari Lampung hingga Aceh. Pembangkit yang kini bernama PLN Indonesia Power Sijantang ini berlokasi di Talawi, Sawahlunto.
Assistant Manager Keuangan dan Umum PLN Indonesia Power Sijantang, Hadi Mulyadi, menekankan pentingnya peran PLTU Sijantang dalam sistem kelistrikan Sumatera. "Jika pembangkit ini mengalami gangguan, dampaknya bisa berupa pemadaman bergilir," ujarnya pada Selasa (13/1). Manajemen PLN Indonesia Power Sijantang terus berupaya melakukan perawatan maksimal untuk mencegah gangguan.
PLTU Sijantang membutuhkan batubara berkualitas tinggi dengan nilai kalor sekitar 6.000 HRC untuk operasionalnya, dengan pasokan didukung oleh sejumlah perusahaan lokal. PLN Indonesia Power Sijantang juga mulai menerapkan co-firing dengan mencampur sekitar 5 persen biomassa serbuk kayu berkalori 4.000 HRC sebagai bagian dari upaya transisi energi terbarukan.
Selain itu, PLN Indonesia Power Sijantang mengembangkan tanaman kaliandra sebagai sumber energi alternatif. Saat ini, sekitar 5.000 batang telah ditanam di Kenagarian Sijantang, serta 3.800 batang di Desa Salak dan Kolok. Pembangkit beroperasi penuh dengan dua unit, membutuhkan sekitar 2.000 ton batubara per hari. Stok batubara yang tersedia saat ini mencapai 100 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Idul Fitri mendatang.
Selain fokus pada kelistrikan, PLN Indonesia Power Sijantang juga aktif menjalankan program CSR. Sepanjang 2025, perusahaan telah melaksanakan sekitar 20 kegiatan meliputi pembinaan UMKM, pelatihan, beasiswa, hingga penanaman pohon, dengan total anggaran sekitar Rp1 miliar. "Ini bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar," pungkas Hadi.










