Jakarta – Pengrajin perhiasan emas berupaya menyiasati lonjakan harga emas dengan menurunkan kadar karat pada produk perhiasan. Langkah ini diambil sebagai solusi menjaga produktivitas di tengah kenaikan harga bahan baku.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menyatakan pengusaha perhiasan telah menyesuaikan diri dengan harga emas yang fluktuatif.
"Sejak bahan baku emas tidak terkendali, pengusaha sudah menyesuaikan," kata Reni, Kamis (29/1/2026).
Saat harga emas 24 karat (99,99 persen) meningkat, pengusaha mulai menurunkan kualitas bahan baku. Kenaikan biaya bahan baku berdampak signifikan pada ongkos produksi dan harga jual perhiasan.
Pengusaha kini cenderung memilih emas 17 karat atau 15 karat sebagai bahan baku perhiasan untuk menyiasati kenaikan harga emas.
"Kelihatannya besar, tapi begitu ditimbang gramnya kecil," ujar Reni.
Strategi ini dinilai sebagai jalan tengah bagi produsen dan konsumen. Masyarakat tetap dapat membeli perhiasan di tengah harga bahan baku yang tinggi, sementara produsen tetap dapat berproduksi.
Masyarakat juga melihat perhiasan emas sebagai instrumen investasi alternatif di saat harga logam mulia meningkat.
Kinerja pengusaha perhiasan emas tetap stabil seperti saat harga emas masih normal. Konsumen tetap berbelanja dan investasi tetap berjalan. Data ekspor emas pada tahun 2025 menunjukkan kenaikan sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Reni optimistis masyarakat akan tetap tertarik membeli perhiasan emas, didorong oleh variasi model dan warna yang ditawarkan pengrajin.
"Ada yang putih, emas putih, emas kuning. Ini menarik konsumen kita untuk terus belanja di tengah situasi harga emas yang naik," katanya.
Pada hari yang sama, harga emas yang dikutip dari laman resmi Sahabat Pegadaian menunjukkan lonjakan harga pada dua produk, yaitu Galeri24 dan UBS.
Harga jual emas Galeri24 naik menjadi Rp3.068.000 dari sebelumnya Rp2.965.000 per gram, atau naik Rp103 ribu. Harga emas UBS juga melonjak dari Rp3.017.000 menjadi Rp3.136.000 per gram, atau naik Rp119 ribu.
Sebelumnya, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi kenaikan harga emas hingga Rp3 juta per gram. Ia menyatakan bahwa jika harga emas dunia naik, kemungkinan besar akan mencapai US$5.020 per troy ounce, dan harga emas Antam akan naik menjadi Rp2.992.000 per gram.
Bahkan, jika tren kenaikan berlanjut, emas dunia dapat mencapai US$5.100 per troy ounce dan logam mulia mencapai Rp3.092.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan bahwa harga logam mulia dapat menembus Rp3 juta per gram jika harga emas dunia di atas US$5.000 per troy ounce. Namun, jika tren harga turun, emas dunia diprediksi akan berada di kisaran US$4.904-4.960 per troy ounce, dan logam mulia merosot ke Rp2.752.000-2.852.000 per gram.
Beberapa faktor memengaruhi fluktuasi harga emas dunia, termasuk masalah geopolitik, perang dagang, politik Amerika Serikat, serta permintaan dan penawaran.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Uni Eropa terkait Greenland, serta situasi Timur Tengah yang memanas, turut memicu fluktuasi harga emas.
Dari sisi supply and demand, kenaikan harga emas dapat dipicu oleh aksi sejumlah bank sentral yang menumpuk cadangan devisa dengan membeli emas.











