Jakarta – Pemerintah menargetkan pembangunan hunian tetap bagi korban banjir di Sumatera dimulai Februari 2026. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, memastikan kesiapan seluruh tahapan penyediaan hunian.

Tahapan meliputi penetapan lokasi yang clear and clean, pendataan by name by address, penyusunan detail engineering design (DED), hingga proses lelang dan pembangunan. "Kami sudah siap. Sekarang kami berada di tahap paling akhir, yaitu pembangunan hunian tetap," tegas Maruarar, Senin (12/1/2026).

Kementerian PKP mencatat, hingga Jumat (9/1/2026), total 189.308 rumah terdampak banjir di tiga provinsi. Di Aceh, 64.740 rumah rusak ringan, 40.103 rusak sedang, 29.527 rusak berat, dan 13.969 rumah hanyut.

Sumatera Utara mencatat 18.341 rumah rusak ringan, 3.616 rusak sedang, 5.149 rusak berat, dan 937 rumah hanyut. Sementara itu, Sumatera Barat mencatat 6.627 rumah rusak ringan, 2.842 rusak sedang, 2.666 rusak berat, dan 791 rumah hanyut.

Pemerintah menyiapkan lahan relokasi di berbagai titik. Aceh memiliki 153 lokasi (41 lahan pemda, 9 lahan negara, 30 lahan BUMN/BUMD, 56 lahan swasta, 17 identifikasi). Sumatera Utara memiliki 16 lokasi, dan Sumatera Barat 28 lokasi relokasi.

"Total luas lahan relokasi di Aceh mencapai 473 hektare, di Sumatera Utara 58 hektare, dan di Sumatera Barat 53 hektare," jelas Maruarar. Khusus Aceh, 24 dari 153 titik lahan yang diusulkan (daya tampung 28.311 unit) telah diverifikasi dan dinyatakan layak.

Maruarar menekankan tiga kriteria utama pembangunan huntap: aman dari bencana, tidak bermasalah hukum, dan dekat pusat kehidupan masyarakat. "Lokasinya harus aman dari banjir, tsunami, atau longsor. Lahan juga harus bersih secara hukum dan dekat dengan ladang, tempat kerja, sekolah, serta pasar," paparnya.

Maruarar mengusulkan percepatan penganggaran dan pengadaan barang/jasa. Ia menekankan pentingnya satu data nasional agar penanganan berjalan cepat dan akurat. "Kami menunggu data final dari BPS. Satu data ini penting agar tidak ada perbedaan angka dan semua langkah bisa terkoordinasi," pungkas Maruarar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *