Dharmasraya – Anggota Komisi V DPR RI Zigo Rolanda menyoroti lambannya progres preservasi Jalan Sungai Rumbai-Junction Koto Baru di Kabupaten Dharmasraya saat meninjau langsung pekerjaan di lapangan, Rabu siang (6/5/2026). Di tengah debu yang beterbangan dan lalu-lalang kendaraan logistik, ia meminta rekanan tidak sekadar mencari alasan, melainkan menunjukkan komitmen nyata untuk menuntaskan proyek jalan nasional itu.

Dalam peninjauan tersebut, Zigo langsung menanyakan besaran anggaran dan skema pengerjaan proyek yang bersifat multiyears.Dengan nada tenang, ia membuka dialog dengan pertanyaan singkat kepada pihak pelaksana.

“Ini anggarannya berapa? Ini kan multiyears?” ujarnya.

Suasana awalnya berjalan santai, namun berubah serius saat kontraktor mengakui progres pekerjaan baru sekitar tiga persen dan masih di bawah target.Zigo pun merespons dengan penekanan agar pekerjaan segera dipercepat.“Penganggaran susah sekarang, Pak.Orang teriak-teriak dulu, baru bapak kerja,” katanya.

Kunjungan itu merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komisi V DPR RI terhadap proyek preservasi jalan nasional ruas Sungai rumbai-Junction Koto Baru. Ruas ini menjadi jalur logistik penting di lintas tengah sumatera.

Bagi warga Dharmasraya, kondisi jalan tersebut sudah lama menjadi sumber keluhan. Kerusakan jalan disebut kerap memicu kecelakaan, bahkan warga pernah menanam batang pisang di badan jalan sebagai bentuk protes.

Keluhan itu juga disampaikan Zigo kepada pihak rekanan. “Banyak orang kecelakaan di jalan nasional. Jalan koto Baru sampai ditanam batang pisang oleh masyarakat,” ujarnya.

Pihak kontraktor kemudian memaparkan sejumlah kendala, mulai dari persoalan teknis hingga keterlambatan mobilisasi alat berat dan crusher.Mereka menyebut proses itu memakan waktu hingga enam bulan.

Namun, Zigo tetap menekan inti persoalan dengan pertanyaan singkat. Ia menanyakan apakah proyek sudah menggunakan uang muka.

“Pakai uang muka, kan?” tanya Zigo.

“Iya,Pak,” jawab pihak rekanan.“Kalau begitu apa komitmennya?” lanjutnya.Zigo juga memastikan jumlah alat berat yang benar-benar bekerja di lapangan. Pihak kontraktor menyebut ada dua unit excavator dan tiga unit compactor yang digunakan.

melihat kondisi jalan yang dipenuhi kendaraan besar, Zigo menilai keterlambatan proyek tidak bisa dianggap remeh. Menurut dia, ruas itu merupakan urat nadi distribusi barang di Sumatera Barat.

“Ini jalan logistik, jalan lintas tengah. Bapak nggak bisa anggap ringan,” katanya.

Dalam pengawasan itu, Zigo kembali menegaskan bahwa tanggung jawab pengerjaan tidak bisa terus dialihkan ke pihak lain. Ia menyebut pemerintah kerap menjadi pihak yang disalahkan, padahal kelalaian juga berada pada rekanan pelaksana.

“Pemerintah saja yang disalahkan. Yang lalai itu bapak sebagai rekanan, kan,” ucapnya.

Pernyataan itu menjadi penutup paling tajam dalam dialog di lapangan. zigo tidak meninggikan suara, tetapi pertanyaannya menempatkan tanggung jawab secara langsung pada pihak yang mengerjakan proyek.

Sikap tersebut menunjukkan gaya pengawasan Zigo yang tegas tanpa harus marah-marah. Ia membiarkan fakta di lapangan berbicara, lalu menekan persoalan dengan pertanyaan yang mengarah pada solusi dan tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *