Padang – gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah bersama Biantiningsih Djiwandono dan Maryani Djojohadikusumo menanam pohon Andalas di Kampus Universitas Andalas, Limau Manis, Padang, Jumat (5/6/2026). Penanaman itu menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas sekaligus menegaskan komitmen menjaga lingkungan dan melestarikan identitas daerah.
Pohon Andalas yang ditanam di lingkungan kampus dikenal sebagai flora khas Sumatera Barat dan menjadi bagian dari jati diri Universitas Andalas. Kegiatan tersebut juga dihadiri Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Komisaris Utama PT Hutama Karya Denny Abdi, serta Direktur Human Capital dan Legal PT Hutama Karya Muhammad Fauzan.
Mahyeldi menekankan bahwa penanaman pohon tidak boleh berhenti pada simbol seremonial. Menurut dia, kegiatan itu harus dipandang sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Menanam Pohon Andalas berarti menanam harapan, menjaga warisan, merawat alam, dan mewariskan kehidupan bagi generasi yang akan datang,” ujar Mahyeldi.
Ia mengatakan Pohon Andalas memiliki makna lebih dari sekadar tanaman penghijauan. Pohon itu, kata dia, menjadi simbol keterhubungan manusia, alam, dan ilmu pengetahuan.
Karena itu, Mahyeldi menilai keberadaan Pohon Andalas perlu dijaga sebagai identitas daerah sekaligus media edukasi lingkungan. Ia juga mengapresiasi Universitas Andalas yang tetap konsisten mempertahankan kawasan hijau di lingkungan kampus.Menurut Mahyeldi, ruang hijau di kampus tidak hanya berdampak bagi ekologi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Kawasan hijau yang dimiliki Universitas Andalas merupakan aset yang sangat berharga. Kita berharap kawasan ini terus dijaga dan dikembangkan sebagai percontohan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” katanya.
Mahyeldi juga mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya bibit yang ditanam. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan pohon-pohon itu dirawat hingga tumbuh dan memberi manfaat nyata.
“Saya minta pohon yang ditanam tidak hanya ditanam, tetapi juga dirawat dengan baik. Jangan sampai berhenti pada kegiatan simbolis semata. Yang lebih penting adalah bagaimana pohon itu tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, menjaga lingkungan memerlukan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat. Menurut dia, kesadaran bersama menjadi kunci dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Mahyeldi menilai peringatan Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas menjadi momentum untuk mengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.Kemajuan juga, kata dia, harus tercermin dari kemampuan menjaga lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Melalui tema “Tumbuh Berakar, Menjulang Berdampak”, Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk terus berkembang sebagai institusi pendidikan unggul yang turut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.











