Jakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan harga energi global dan memukul kinerja ekspor Indonesia. Indonesia Eximbank Institute (IEI) memperingatkan gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut dapat merembet ke jalur perdagangan regional.

Kepala IEI, Rini Satriani, mengungkapkan lebih dari 30% produksi minyak dunia berasal dari Timur Tengah. Sekitar 20-30% perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz.

"Walaupun impor minyak Indonesia tidak langsung dari Timur Tengah, dampaknya terasa melalui jalur perdagangan regional," tegas Rini dalam keterangan resmi, Sabtu (21/3/2026).

IEI mencatat sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia. Kedua negara ini merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak utama di Asia, yang juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah.

Gangguan pasokan di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi di Indonesia. IEI memperkirakan harga minyak dunia sepanjang 2026 dapat bergerak di kisaran US$ 85–120 per barel jika ketegangan geopolitik berlanjut.

Kenaikan harga energi dan biaya logistik dapat meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Eksportir Indonesia, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar, akan merasakan tekanan tersebut.

Volatilitas pasar keuangan global juga dapat menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik, memperbesar tekanan biaya bagi sektor berorientasi ekspor.

Namun, di tengah risiko tersebut, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru berpotensi mengalami kenaikan harga seiring kenaikan harga energi global. Batubara dan minyak kelapa sawit (CPO) diperkirakan akan mendapatkan dorongan harga.

IEI memperkirakan ekspor Indonesia pada 2026 masih dapat tumbuh pada kisaran 4-5%, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5-6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda.

Rini menambahkan, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *