Jakarta – Survei terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan kekhawatiran para ekonom terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Hampir separuh responden menilai ekonomi Tanah Air mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026 mencatat, 48 persen ekonom dari 85 responden berpandangan kondisi ekonomi Indonesia memburuk. Rinciannya, 35 ekonom menyatakan kondisi ekonomi lebih buruk, sementara 6 ekonom menilai jauh lebih buruk. Sebanyak 32 ekonom berpendapat kondisi ekonomi tidak berubah dibandingkan tiga bulan lalu, dan 12 ekonom melihat adanya perbaikan.

"Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan Maret 2025, menunjukkan bahwa setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik," tulis tim LPEM UI dalam laporan.

Survei tersebut juga menyoroti peningkatan tekanan inflasi. Mayoritas ekonom, yaitu 67 persen atau 57 responden, menilai inflasi mengalami peningkatan. Sementara itu, 27 persen (23 ekonom) melihat inflasi tidak berubah, dan hanya 6 persen (5 ekonom) yang menilai inflasi mereda.

Kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi perhatian. Sebanyak 56 persen ekonom (44 responden) menilai kondisi pasar tenaga kerja lebih ketat dibandingkan tiga bulan sebelumnya. "Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi pertanda meningkatnya pengangguran dan terhambatnya pertumbuhan upah, yang menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri," jelas tim LPEM UI.

Dari aspek lingkungan bisnis, 45 persen ekonom (38 responden) menilai kondisinya lebih buruk. Sebanyak 29 persen (25 ekonom) melihatnya tidak berubah, dan 16 persen (14 ekonom) menilai jauh lebih buruk.

Survei ini melibatkan 85 ekonom dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, dan organisasi multinasional. Pengumpulan data dilakukan melalui platform survei online pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026. Responden berasal dari berbagai daerah di Indonesia, serta dari luar negeri seperti Australia, Inggris, Belanda, Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *