Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kerugian bersih sebesar US$ 319,39 juta atau setara Rp 5,4 triliun pada tahun 2025, melonjak tajam dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang hanya US$ 69,77 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun. Selain kerugian, pendapatan usaha konsolidasi maskapai pelat merah ini juga mengalami penurunan sebesar 5,9 persen menjadi US$ 3,22 miliar.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengungkapkan bahwa penurunan kinerja ini dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025. "Penurunan kinerja Garuda Indonesia Group dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/3/2026).
Glenny menambahkan, fluktuasi kurs dan peningkatan biaya tetap akibat program pemulihan armada yang belum optimal turut menjadi penyebab utama kerugian. Banyak pesawat yang belum bisa melayani penerbangan karena masih menunggu perawatan terjadwal. Garuda Indonesia berupaya memaksimalkan jumlah pesawat yang beroperasi menjadi 99 armada pada akhir 2025, meningkat dari 84 armada pada Juni 2025. Namun, hingga saat ini masih ada 43 pesawat yang belum bisa beroperasi dan sedang dalam proses perawatan.
Kapasitas produksi yang terbatas ini berdampak pada penurunan jumlah penumpang. Garuda Indonesia mencatat jumlah penumpang pada 2025 sebanyak 21,2 juta, turun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Tekanan kinerja Garuda Indonesia juga dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global," imbuh Glenny.
Meskipun demikian, Glenny optimistis dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten. Garuda Indonesia meyakini kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid.
Pada tahun 2025, Garuda Indonesia menerima suntikan modal sebesar Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management. Suntikan modal ini berhasil memperbaiki posisi ekuitas perseroan menjadi positif, meningkat menjadi US$ 91,9 juta dari minus US$ 1,35 miliar pada tahun sebelumnya.
Glenny menjelaskan, suntikan modal dari Danantara digunakan untuk mempercepat program perawatan dan reaktivasi armada, serta menyelesaikan kewajiban Citilink kepada Pertamina. Sebesar 64 persen atau sekitar Rp 15 triliun dialokasikan kepada Citilink, sementara Garuda Indonesia memperoleh Rp 8,7 triliun untuk perawatan armada.











